Adab Rasul

Bahkan dalam Bersanggama

Banyak cara bersedekah seperti menggauli istri atau bahkan yang lebih sederhana berjalan ke masjid (foto ilustrasi Roman Kraft/Unsplash)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Terdapat sedekah harta dan nonharta. Untuk yang nonharta ada yang bermanfaat bagi orang lain, dan ada yang hanya bermanfaat untuk dirI sendiri.

Sedekah memadamkan kesalahan, seperti air  memadamkan  api. Demikian  Nabi  seperti dikutip dari hadis Nasa’i. Hanya, beliau tidak menyebut jenis  sedekah apa yang paling utama. Itu tergantung situasi dan kondisi yang bersangkutan. Namun, yang paling utama, “Jika engkau bersedekah sementara engkau dalam keadaan sehat, kikir, takut miskin dan berangan-angan jadi kaya.”  Waktu itu, bersedekahlah. (Bukhari).

Masalahnya, tidak semua kita berharta. Ini pula yang pernah dikeluhkan oleh sekelompok saudara miskin kepada Rasulullah. Soalnya, mereka tidak mampu bersaing dengan orang kaya. “Ya Rasulullah, orang kaya  pergi dengan banyak pahala. Mereka shalat seperti kami, berpuasa seperti kami, tapi mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka.”

Apa jawab Nabi? “Bukankah Allah telah menjadikan untuk kamu hal-hal yang bisa kamu sedekahkan? Tiap bacaan tasbih, itu sedekah. Tiap takbir, sedekah. Tiap tahmid, sedekah. Tiap tahlil, sedekah. Amar makruf  sedekah, nahi mungkar   juga sedekah. Malahan dalam sanggama kamu ada (nilai) sedekah.”

“Rasulullah, kebetulan salah seorang dari kami baru bercampur dengan istrinya. Apakah dia juga dapat pahala?”

“Bagaimana pandangan kalian, jika sanggama itu diletakkan di tempat yang haram, bukankah dia mendapat dosa? Begitu juga kalau di tempat yang halal. Dia mendapat pahala.”

Arkian, Ibn Rajab Al-Hanbali (Jami’ul Ulum wal-Hikam) membagi dua sedekah nonharta. Pertama, yang mendatangkan kebajikan bagi orang lain, yang bahkan terkadang lebih berharga daripada harta. Misalnya amar makruf nahi mungkar, mengajarkan ilmu bermanfaat, membacakan Al-Qur’an, menghilangkan penderitaan orang, termasuk mendoakan kaum muslimin dan memintakan ampun bagi mereka. Sabda Nabi, “Senyummu di hadapan wajah saudaramu adalah sedekahmu. Ajakanmu untuk hal yang makruf dan cegahanmu dari yang mungkar juga sedekahmu.

Petunjukmu kepada orang yang tersesat di suatu tempat juga sedekahmu. Tindakanmu menyingkirkan batu, duri, tulang, dari jalan, juga sedekah. Jerih payahmu menimbakan air untuk saudaramu juga sedekah.” Yang kedua, sesuatu yang bermanfaat hanya buat pelakunya. Misalnya membaca takbir, tahmid, tahlil, istigfar, juga berjalan ke masjid. Yang ini yang paling murah. Dan, seharusnya yang paling mudah

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda