Mutiara

Jihad, Pemimpin, dan Loyalitas dalam Prinsip

Jihad paling besar adalah jihad melawan hawa nafsu (ilustrasi foto Tobias Mrzyk/Unsplash)
A.Suryana Sudrajat
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Jihad terbaik, kata Nabi, adalah menyampaikan kata-kata yang adil kepada penguaaa yang zalim. Dan memang tidak harus selalu berhubungan dengan senjata.

Abu Bakr ibn Abu Musa Al-Asy’ari berkata, “Aku pernah mendengar ayahku, ketika  sedang menghadapi musuh, berkata: “Dulu Rasullah s.a.w. bersabda, “Pintu-pintu surga itu berada di bawah bayang-bayang pedang.”  Lalu, pada satu pertempuran, tampil seseorang berpakaian lusuh, yang berkata: “Wahai, Abu Musa. Benarkah pernah kaudengar Rasulullah mengatakan bahwa pintu-pintu surga terletak di bawah bayang-bayang pedang?’  Abu Musa menjawab,  ‘Benar’. Laki-laki kumal itu lalu kembali kepada teman-temannya dan berkata: “Selamat tinggal, Kawan-kawan…..! Dia mematahkan sarung pedangnya, membuangnya, lalu menyerbu ke tengah-tengah musuh. Ia gugur. “

Yang berikut adalah kisah Amr ibn Jamuh, sahabat Rasulullah yang kakinya pincang berat. Dia punya empat anak laki-laki yang selalu ikut berperang bersama Nabi. Ketika Nabi akan berangkat menuju medan pertempuran Uhud, Amr memaksa ikut. Tapi anak-anaknya mencegahnya. “Allah memberikan keringanan kepada Ayah,”  kata mereka. “Jika ayah tidak ikut berangkat, dan kami menggantikan, Allah tentunya melepaskan kewajiban jihad itu dari Allah.”

Amr tidak puas. Ia mendatangi Rasulullah untuk mengadukan halnya. “Ya Rasulullah,” katanya, “anak-anak saya melarang saya berangkat bersama Anda. Wallahi, sebenarnya saya berharap dapat gugur sebagai syahid, agar bisa menginjakkan kaki saya yang pincang ini ke surga.”

Nabi menjawab, “Amr, sebenarnya Allah sudah menghapuskan kewajiban jihad itu dari kamu.”

Lalu beliau berpaling kepada anak-anak orang tua itu.  “Mengapa kalian tidak membiarkannya pergi? Siapa tahu Allah menakdirkannya sebagai syahid.”

Akhirnya Amr pun berangkat bersama Rasulullah. Benar, ia gugur sebagai pahlawan Perang Uhud”.

Masih dalam Perang Uhud. Sahabat  Anas ibn Nadhr maju ke medan perang, dan ketika bertemu Sa’d ibn ,u’adz ia berteriak : “Hai , Bung! Surga….. demi Allah, aku sudah mencium baunya di balik Bukit Uhud!”

Cerita Anas kemudian: “Akhirnya, kami dapati ia sudah terbunuh. Dicincang orang-orang musyrik. Di tubuhnya terdapat lebih 80 luka bekas pedang, tombak, atau anak panah. Tidak ada yang waktu itu bisa mengenalinya lagi, kecuali saudara perempuannya.”

Tapi jihad, sebagaimana  diajarkan dalam Islam, tidak harus selalu berhubungan dengan senjata. Sebab, makna jihad sesungguhnya adalah mencurahkan seluruh kemampuan yang dimiliki untuk mencari keridhaan Allah, dengan bermacam jalan dan cara, serta mencakup berbagai aktivitas  kehidupan. Mulai dari menuntut ilmu sampai mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. “Dan orang-orang yang berjihad, di jalan (untuk mencari keridhaan), Kami, akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Allah bersama orang-orang budiman.” (Q. 29:69).

Sa’d ibn Malik, sahabat Rasulullah yang pernah ikut berperang 12 kali , dan meriwayatkan 1.170 hadist, mengatakan, “Ketika Rasulullah s.a.w ditanya mengenai jihad yang terbaik, beliau menjawab: ‘Kata-kata yang adil yang disampaikan kepada seorang penguasa yang zalim.’”. Ini mungkin, dalam mekanismenya yang modern, yang sering mewujud dalam pembentukan moral force,  di kampus atau di mana pun.

Berkata Al-Hasan: “Seseorang sungguh berjihad, meski hampir tidak sehari pun untuk seumur hidupnya dia menghunus pedang. Tapi apa indikasi seseorang dikatakan sungguh berjihad? Pertama, nilai-nilai yang ingin diperjuangkan. Dan kedua, praktek-praktek yang diperanginya. Umar ibn Khattab r.a pernah mengingatkan bahwa yang merusak Islam (biasanya) adalah generasi baru yang lahir di zaman Islam dan tidak tahu seluk-beluk jahiliah. Dengan kata lain, mereka tidak bisa dijamin untuk selalu bisa mengindentifikasikan mana yang jahiliah dan mana yang bukan, atau apa sebenarnya yang sedang mereka hadapi. Tapi itu peringatan tentang potensi. Belum tentu kenyataan.

Ibnul Qaiyim Al-Jauziyah membagi jihad menjadi empat macam, dilihat dari sasaran yang harus dilawan. Pertama, jihad menhadapi orang kafir yang hendak merusak agama Allah. Kedua, menghadapi iblis. Ketiga, melawan kaum munafik. Dan terakhir, justru bisa menjadi yang paling berat, melawan musuh dalam diri kita, yakni hawa nafsu. 

Menurut Al-Nadwi, kemauan dan kesungguhan jihad  sebenarnya merupakan syarat pertama yang harus dimiliki seorang pemimpin. Bisa dipahami, karena seorang pemimpin harus memberantas hal-hal yang bersifat merusak, khususnya yang berskala luas luar-dalam. Dalam hal itu ia harus berpijak pada kesungguhan melaksanakan hukum secara adil. Dia tidak boleh setengah-setengah. Setelah itu, baru syarat kedua: kemampuan ijtihad.  Ini berarti kemampuan mencari jalan keluar bagi berbagai problema kemasyarakatan. Karena itu, kata Al-Nadwi, seorang pemimpin harus intelegen, dinamis, serius, serta luas wawasannya.

Kepada pemimpin yang terlihat tidak atau kurang memiliki semangat jihad dan kemampuan ijtihad yang dimaksudkan itu, atau penguasa yang sejatinya  meletakkan urusan publik di bawah kepentingan sendiri, memang tetap dituntut loyalitas dari kita. Tapi ini loyalitas dalam prinsip. Sebab di depan kita, tanpa loyalitas itu, yang ada ialah anarki. Adapun untuk yang lebih dari prinsip, jargon politik kita adalah sabda Nabi yang menyatakan: La tha’ata li makhluqin fi  ma’shiatil Khaliq.  Tak ada kesetiaan bagi makhluk dalam hal yang merupakan kedurhakaan kepada Khalik.    

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda