Aktualita

Janji Para Pemimpin

Janji seorang pemimpin akan ditagih dan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah SWT (ilustrasi foto : Joshua Earle/Unsplash)
B.Wiwoho
Ditulis oleh B.Wiwoho

Beberapa bulan menjelang Pemilu 2019, negeri kita bertaburan spanduk, poster, baliho, kaos oblong dan obral janji. Berbagai macam gaya dan pamer diri dari ribuan calon anggota legislatif mulai tingkat pusat (Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah), DPR-Daerah Tingkat I sampai  DPR-Daerah Tingkat II, dipertontonkan ke masyarakat luas. Belum lagi dalam perebutan posisi Presiden dan Wakil Presiden  yang seperti hendak membelah masyarakat.

Jika melihat kursi yang diperebutkan, boleh jadi angka caleg tidak hanya ribuan tapi ratusan ribu. Mari kita simak, 575 kursi DPR-RI diperebutkan oleh 7.968 calon yang berasal dari 20 parpol, 136 kursi DPD diperebutkan 807 calon. Sedangkan 2.207 kursi DPRD-I dan DPRD-II sebanyak 17.610 kursi. Kalau kita rata-rata setiap kursi diperebutkan oleh hanya 10 calon dari 20 parpol, maka akan terdapat 198.170 caleg DPRD. Dengan demikian total seluruh caleg bisa lebih dari 200.000.

Semua peserta Pemilu mulai dari Capres dan Cawapres, calon anggota DPD, DPR-RI sampai dengan DPRD-I dan II, melakukan kampanye dan sibuk mengobral janji. Pada kampanye tahun 2014 saja misalkan, di media sosial kita bisa menemukan Capres Jokowi tercatat menebar 66 janji. Entah berapa banyak janji lagi sekarang ini. Juga entah berapa banyak dari Capres Prabowo serta sekitar 200.000 caleg.

Begitu mudah orang mengumbar janji. Padahal janji di dalam Islam adalah hutang yang harus dibayar. Janji itu akad, yang sebagaimana artinya berupa ikatan yang bersifat mengikat antara kedua belah pihak, baik yang  berjanji maupun orang lain atau masyarakat yang menerima janji.

Hukum berjanji adalah mubah, sementara hukum menepati janji adalah wajib, sehingga melanggar janji berarti suatu keharaman. Gusti Allah SWT  berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu.” (QS: Al-Ma’idah: 1)

Lebih tegas lagi dijelaskan dalam Surat Al-Isra ayat 34, “Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik bermanfaat sampai ia dewasa dan penuhilah janji. Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya”.

Sahabat-sahabatku

Lidah memang tidak bertulang, sehingga mudah ditekak-tekuk. Namun janji yang keluar dari mulut dengan lidahnya itu, sesuai ajaran Islam harus ditepati. Oleh sebab itu  kita dilarang mengobral janji yang pada akhirnya tidak dapat  menepati. Islam memandang kewajiban menunaikan janji adalah perkara mutlak. Sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadits :“Tanda-tanda orang munafik ada tiga yaitu jika bicara dusta, jika berjanji mengingkari dan jika diberi amanat khianat. ” (H.R.Muslim).

Zaman sekarang memang berbeda dari zaman kehidupan Kanjeng Nabi Muhammad, para sahabat dan pengikut-pengikutnya.Tetapi pelajaran paling berharga apalagi yang patut kita teladani jika tidak dari masa-masa tersebut?

Sebuah contoh menarik adalah tatkala Umar bin Abdul Aziz (682 – 720 M) yang berada di tengah kerumunan massa, justru merasa mendapat musibah dan bukan rahmat, begitu musyawarah rakyat mendaulatnya untuk menjadi khalifah menggantikan saudara sepupu sekaligus kakak iparnya, Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik yang baru saja wafat.  Secara spontan ia mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.”

Ia memahami betul kehidupan pada menjelang akhir paruh pertama abad I Hijriah itu, yang sangat diwarnai penindasan, kekejaman, ketidakadilan, korupsi dan berbagai kejelekan lainnya. Sementara untuk membasmi perlawanan serta memadamkan api kebencian rakyat, penguasa menggunakan politik adu domba, memperalat golongan yang satu untuk melawan lainnya.

Maka dalam pidato pelantikannya, ia mengatakan, “ Sebelum aku, telah berkuasa pejabat-pejabat yang tidak kalian senangi dengan menolak kezaliman mereka atas diri kalian. Tidak ada lagi nabi setelah nabi kalian, tidak ada kitab selain kitab yang diturunkan kepadanya. Ketahuilah bahwa apa yang Allah halalkan adalah halal sampai hari kiamat. Aku bukanlah seorang hakim, aku hanyalah pelaksana, dan aku bukanlah pelaku bid’ah melainkan pengikut sunnah. Tidak ada hak bagi siapapun untuk ditaati dalam kemaksiatan. Ketahuilah! Aku bukanlah orang yang terbaik di antara kalian, aku hanyalah seorang laki-laki bagian dari kalian, hanya saja Allah Subhanahu wa Ta’ala memberiku beban yang lebih berat dibanding kalian.

Kaum muslimin, siapa yang mendekat kepadaku, hendaklah mendekat dengan lima perkara, jika tidak, maka jangan mendekat: Pertama, mengadukan hajat orang yang tidak kuasa untuk mengadukannya. Kedua, membantuku dalam kebaikan sebatas kemampuannya. Ketiga, menunjukkan jalan kebaikan kepadaku sebagaimana aku dituntut untuk meniti jalan tersebut. Keempat, tidak melakukan ghibah terhadap rakyat, dan kelima, tidak menyangkalku dalam urusan yang bukan urusannya.

Aku berwasiat kepada kalian agar kalian bertakwa kepada Allah, karena takwa kepada Allah memberikan akibat yang baik dalam setiap hal, dan tidak ada kebaikan apabila tidak ada takwa. Beramallah untuk akhirat, karena barangsiapa beramal untuk akhirat, niscaya Allah akan mencukupkan dunianya. Perbaikilah, jaga rahasia yang ada pada diri kalian, semoga Allah memperbaiki apa yang terlihat dari amal perbuatan kalian. Perbanyaklah mengingat kematian, bersiaplah dengan baik sebelum kematian itu menghampiri kalian, karena kematian adalah penghancur kenikmatan. Sesungguhnya umat ini tidak berselisih tentang Tuhannya, tidak tentang Nabinya, tidak tentang Kitabnya, akan tetapi umat ini berselisih karena dinar dan dirham. Sesungguhnya aku, demi Allah, tidak akan memberikan yang batil kepada seseorang dan tidak akan menghalangi hak seseorang.”

Itulah janji Umar bin Abdul Aziz, yang selama dua setengah tahun masa pemerintahannya berusaha ditepati dengan segala risiko dan kerja keras, sampai akhirnya beliau wafat lantaran diracun oleh lawan-lawannya. Uniknya, ia menolak diobati dan memilih menjemput maut, secepatnya menemui Sang Kekasih Yang Maha Agung, yang dirindukannya siang malam, dengan meninggalkan segala pesona dunia, termasuk masa pemerintahan yang pendek namun sangat gemilang.

Sahabatku, semoga kita dimasukkan Gusti Allah ke dalam golongan hamba-hambaNya yang pandai menepati janji. Amin. Subhanallah walhamdulillah, yuuk kita rehat dengan kopi asli rakyat Ndeles di lereng Merapi, Jawa Tengah

Tentang Penulis

B.Wiwoho

B.Wiwoho

Wartawan, praktisi komunikasi dan aktivis LSM. Pemimpin Umum Majalah Panji Masyarakat (1996 – 2001, 2019 - sekarang), penulis 40 judul buku, baik sendiri maupun bersama teman. Beberapa bukunya antara lain; Bertasawuf di Zaman Edan, Mutiara Hikmah Puasa, Rumah Bagi Muslim-Indonesia dan Keturunan Tionghoa, Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, Operasi Woyla, Jenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar, Mengapa Kita Harus Kembali ke UUD 1945 serta Pancasila Jatidiri Bangsa.

Tinggalkan Komentar Anda