Mutiara

Yang Miskin Setelah Berkuasa

Ilustrasi pedagang mengendarai onta untuk berniaga (foto : jeff jewiss/unsplash)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Bantulah saya jika berada di jalan yang benar, dan perbaiki jika berada di jalan yang salah. Kebenaran adalah keterpercayaan, kesalahan adalah pengkhianatan

Dialah  saudagar yang langsung percaya ketika mendengar kabar perjalanan Nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha kemudian ke Sidratul Muntaha, kemudian balik lagi, dalam waktu hanya sekejap, di malam hari. Seorang yang secara khusus diminta Rasulullah menemaninya berhijrah ke Madinah. Seorang yang ketika masuk Islam punya 40.000 dirham, belum lagi uang yang sedang beredar dalam perdagangan – asset yang menjadikannya masuk daftar orang kaya papan atas di Jazirah Arab – tapi tinggal 5.000 dirham ketika berhijrah, susut karena penggunaan untuk perjuangan agama. Seorang yang jika ada memujinya selalu tampak sedih: “Ya Allah, Engkau lebih tahu diriku daripada aku sendiri, sedangkan aku mengetahui diri sendiri lebih dari yang diketahui orang-orang itu. Ampunilah dosa-dosaku yang tidak mereka tahu, dan jangan buat aku bertanggung jawab atas puji-pujian mereka itu.”

Tak syak lagi, orang itu Abu Bakr Ash-Shiddiq, suksesor Rasulullah s.a.w. sebagai pemimpin umat, yang dipilih secara aklamasi oleh kaum muslimin. Inilah cuplikan pidato pertamanya, setelah diangkat sebagai khalifah:

“Saudara-saudara. Saya terpilih, meski saya tidak lebih baik daripada siapa pun di antara kalian. Bantulah saya jika saya berada di jalan yang benar, dan perbaiki jika saya berada di jalan yang salah. Kebenaran adalah keterpercayaan; kesalahan adalah suatu pengkhianatan. Orang yang lemah di antara kalian akan menjadi kuat bersama saya, sampai kebenaran terbukti. Orang yang kuat di antara kalian akan menjadi lemah bersama saya, sampai saya ambil dari dia hak orang lemah. Patuhilah saya selama saya mematuhi Allah dan Rasul. Jika saya tidak mematuhi Allah dan rasul, jangan patuh kepada saya.”

Semasa kekhalifahannya, dia membuat daftar perintah yang harus ditaati setiap prajurit: “Jangan melakukan penyelewengan. Jangan menipu orang. Jangan membangkang kepada atasan. Jangan memotong bagian badan manusia (menjadikan mayat musuh sebagai barang mainan) dalam perang. Jangan membunuh orang tua, wanita, dan anak-anak. Jangan menebang atau membakar pohon  buah-buahan. Jangan membunuh hewan, kecuali sekadar untuk dimakan. Jangan menganiaya pendeta. Dan jangan lupa kepada Allah atas karunia-Nya yang telah kamu nikmati.”

Setiap penyelewengan diganjar dengan hukuman serius. Begitupun, Abu Bakr hidup secara warga negara biasa.  Dia tetap berjualan kain dan berdagang domba di pasar, juga memerah susu kambing milik kaumnya. Itu kesukaannya yang khas.

Suatu hari, ketika sedang berjalan di Kota Madinah, Abu Bakr mendengar seorang anak perempuan berkata, “Sekarang beliau sudah menjadi khalifah. Tentu tidak akan memerah kambing kita lagi.”

Seketika itu juga Abu Bakr menghampiri. “Tidak, anakku. Bapak akan tetap memerah, seperti biasa. Bapak harap, dengan rahmat Allah, kedudukan Bapak yang sekarang tidak akan berubah kerja sehari-hari Bapak.”

Tapi apa boleh buat, tugas-tugas kekhalifahan akhirnya menyita waktu. Dan Abu Bakr tidak punya kesempatan mengurus mata pencaharian. Karena itu setelah enam bulan. Ia meningalkan usaha dagangannya, sesudah diberi saran agar menerima saja tunjangan dari Baitul Mal — kas negara. Tidak banyak, tapi cukup untuk keperluan sehari-hari orang banyakan. Plafonnya cuma 3.000 dirham per tahun. Begitupun, Abu Bakr tidak ambil semuannya —  hanya sejumlah yang ia butuhkan. Pernah suatu hari istrinya minta dibelikan manisan, tapi sang suami kebetulan sedang pas-pasan. Istrinya lalu mengeluarkan beberapa dirham dari tabungannya selama dua minggu, dan meminta Abu Bakr membeli manisan itu. Adanya tabungan itu sebenarnya karena aku mengambil  uang lebih dari yang kita butuhkan, “ Abu Bakr balik berkata. Ia mengambil uang istrinya, mengembalikannya ke Baitul- Mal, seraya memerintahkan agar tunjangannya dikurangi.

Ketika merasa ajalnya hampir tiba, Abu Bakr menanyakan kepada pegawai Baitul – Mal jumlah tunjangan yang sudah diambilnya. Setelah direken, pegawai itu menjawab: 6.000 dirham. Itu untuk dua setengah tahun masa kekhalifahan. Abu Bakr lalu menyuruh tanah miliknya jual, dan seluruh hasilnya diserahkan kepada Baitul Mal. Sedangkan barang inventaris yang dia pakai , seekor Unta dan sehelai permadani, dia minta diserahkan kepada penggantinnya yang dia usulkan agar diangkat: Umar ibn Khattab. Menerima kedua barang itu, komentar Umar: “Anda  sudah membuat  tugas pengganti Anda  sangat sulit. “

Abu Bakr berwasiat kepada Aisyah r.a.,  putrinya, supaya dia dikafani dengan dua helai kain yang biasa dipakainya shalat. Ketika Aisyah menawarkan kain baru yang biasa dibelinya, jawabannya: “Orang hidup lebih memerlukan yang baru dari pada yang mati. Kafan itu hanya buat nanah dan tanah. “ (Beberapa sumber menduga, Abu Bakr dikafani dengan tiga helai kain: dua miliknya tadi dan sehelai lagi dibelikan putrinya) Abu Bakr wafat sehabis magrib, Senin 8 Jumadil Akhir 13 H (23 Agustus 634) , dalam usia 63 tahun. Jenazahnya dikuburkan disamping makam Rasulullah s.aw. Seorang saudagar kaya, yang memiliki 40.000 dirham tunai ketika memeluk Islam, tapi menjadi miskin sewaktu wafat sebagai khalifah pertama Islam.

Bandingkan, keluarga-keluarga kita, di Tanah Air, bertambah makmur jika salah satu anggotanya menduduki jabatan kekuasaan.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda