Hamka

Dari Buya Hamka untuk Generasi Milenial Islam

Seminar tentang Ensiklopedia Buya Hamka di Uhamka Jakarta (foto : A Suryana Sudrajat/Panji Masyarakat)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Kalau orang anti-Pancasila, menolak Pancasila, berarti dia kafir. Sebab tidak percaya  pada Tuhan, menurut agama adalah kafir dan kafir masuk neraka.

Ini cerita Afif Hamka tentang mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. Dr Hamka (Uhamka) yang ia tanya di depan pintu lift menjelang peluncuran dan seminar buku Ensiklopedia Buya Hamka, Rabu (27 Maret) lalu.

“Dik, kamu pernah dengar nama Hamka?” tanya putra ke-9 Buya Hamka itu.

“Ya pernah,” jawab si mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Uhamka itu

“Siapa dia?” kembali Afif , bertanya.

“Siapa ya. Bukannya dia yang punya universitas ini, Pak?”

Kata Afif, yang juga Ketua Pusat Studi Buya Hamka Uhamka itu, Seorang petugas kebersihan lalu menyahut: “Buya Hamka itu ulama besar.”

Tanpa menyebut pengalamannya dengan seorang mahasiswa itu, dalam sesi seminar  yang menghadirkan Ketua Umum  Muhammadiyah Haedar Nasir, Ketua Umum ICMI Pusat Jimly Ash-Shidieqy, Penyair Taufiq Ismail, dan Prof  Yunahar Ilyas dari UMY, Afif Hamka menegaskan bahwa meskipun Buya Hamka dikenal tokoh multitalenta dan multiperan, ternyata masih perlu disosialisasikan, baik kepada masyarakat umum, maupun terutama di kalangan civitas akademika Uhamka dan universitas-universitas Muhammadiyah lainnya. Dan penerbitan Ensiklopedia  Buya Hamka, kata Afif, merupakan salah satu program untuk mengenalkan apa dan siapa Buya Hamka kepada kalangan muda. Dia bersyukur, kini sedang dipersiapkan film Buya Hamka yang antara lain dibintangi Laudya Cynthia Bella, Vino. G. Bastian, Dessy Ratnasari dan Ayudia  Bing Slamet.

Buya Hamka berbincang dengan Presiden Soekarno setelah dilantik menjadi anggota konstituante (foto : repro Ensklopedia Buya Hamka)

Menurut Sejarawan Anhar Gonggong, Hamka dengan “lautan samudera” pemikiran yang disajikan Ensiklopedia itu, telah memberikan warisan yang amat penting untuk generasi  sekarang  dan generasi yang akan datang. “Dan warisan ini tidaklah dapat disama-hargakan dengan setumpuk harta benda yang dimiliki oleh orang terkaya sekalipun. Pikiran dengan kalimat-kalimat lancar yang tidak sulit dipahami – bagi mereka yang bersedia membaca dan merenungkan makna isinya akan sangat beruntung karena apa yang diperolehnya adalah bekal yang justru akan memperkayanya,” ujar peneliti LIPI itu.

Politikus Berkarakter Imani

Salah satu warisan yang paling berharga untuk generasi milenial Islam, kata Anhar, adalah tentang dasar negara Republik Indonesia yaitu Pancasila. Pemikiran Hamka tentang Pancasila tidak hanya lahir dari seorang ulama melainkan juga dari seorang yang bertahun-tahun tampil sebagai politikus. “Tetapi beliau tampil sebagai politikus yang berkarakter imani;dan karena itu, keterangannya tentang Pancasila telah memberikan pencerahan pikiran yang sangat penting,” kata Anhar. Lalu bagaimana pandangan Buya Hamka, yang pernah menjadi anggota Konstituante itu tentang Pancasila?

“Pancasila adalah pangkal pokok dalam kehidupan. Sila ke satu: Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi pangkal dari keempat sila lainnya. Ajaran Islam yang berpangkal pada tauhid ini merupakan pokok isi kandungan dari Ketuhanan Yang Maha Esa. Tauhid diartikan dalam bahasa Indonesia ialah Esa, untuk mempartahankan kuatkan dengan iman adan agama. Sehingga kalau orang anti-Pancasila, menolak Pancasila, berarti dia kafir. Sebab tidak percaya  pada Tuhan, menurut agama adalah kafir dan kafir masuk neraka. Pancasila menjadi pandangan hidup dunia dan akhirat. Pancasila wajib diamalkan dan diamankan. Bila umat musim mengamalkan ketaatan terhadap agamanya maka dengan sendirinya Pancasila akan terjamin keselamatannya. Dan orang yang tidak mengamalkan agamanya berarti dia tidak mengamalkan dan mengamankan Pancasila.

Menurut Hamka, Pancasila menjadikan negara Indonesia berdasarkan ketuhanan, sehingga tercipta cita-cita bersama yaitu baldatun thayyibatu wa rabbun ghafur. Sila Ketuhanan, kata Hamka, menumbuhkan kelapangan dada  (tasammuh) dari rasa hormat kepada pemeluk agama lainnya. “Tapi pedoman hidup berasal dari Alquran, maka Alquran yang mewajibkan untuk berlapang dada,” ungkap Buya Hamka. Lebih jauh, Buya menyatakan, Pancasila sebagai falsafah negara Indonesia akan hidup dengan subur dan dapat terjamin jika kaum muslimin sungguh-sungguh memahamkan agamanya, sehingga agama menjadi pandangan dan memengaruhi seluruh langkah hidupnya. Kata dia, tidak ada sutu agama dan paham atau ideologi yang dapat menjamin kesuburan Pancasila di Indonesia melebihi Islam. Pertama karena dijamin oleh esatuan ajaran Islam itu sendiri. Kedua, karena pemeluk Islamlah yang terbesar di Indonesia. Oleh karena itu, menurut Buya Hamka, “Percobaan mencuri jalan air buat menjamin suburnya Pancasila di indonesia, laksana raba-rabaan orang buta di malam gulita. Yang dikandung berceceran, yang dikejar tidak dapat.”

Kata Hamka, suatu bangsa yang memperjuangkan Ketuhanan Yang Maha Esa akan mencapai derajat yang setinggi-tingginya , selama mereka berpegang kepada tiga hal pokok dari kemerdekaan. Pertama, merdeka iradah alis kemauan. Kedua, merdeka pikiran atau bebas menyatakan pikiran. Ketiga, kemerdekaan jiwa atau bebas dari ketakutan.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda