Aktualita

Pasca Teror : Kisah Kaum Muslim Indonesia di Selandia Baru

Karangan Bunga tanda simpati di depan Masjid Kilbirnie Wellington (foto : Ramadian Bachtiar)
Ditulis oleh Panji Masyarakat

Kejadian teror Selandia Baru pada 15 Maret 2019 menyisakan kesedihan mendalam bagi semua orang. Tetapi, bagaimana warga Selandia Baru bersimpati dan menyikapi kejadian ini menjadi perhatian dunia. Berikut penuturan Siti Aisyah, warga negara Indonesia yang sejak 2013 tinggal di Wellington Selandia Baru.

Jumat pagi, pada tanggal 15 Maret 2019, saya bersama 13 teman bersiap melakukan perjalanan dari Wellington menuju Nelson. Sejak pindah dari Indonesia ke New Zealand di tahun 2013, saya memang sering melakukan perjalanan eksplorasi di berbagai tempat di negara indah ini. Kali ini kami menuju kota Nelson dalam rangka melakukan  perjalanan sepanjang 12 KM menyusuri jalur pantai di Abel Tasman National Park, taman nasional yang mendunia karena keindahan pantai dan batu karangnya.

Tanpa firasat apapun pagi itu saya memulai perjalanan bersama rombongan dengan menggunakan ferry menuju pulau selatan selama tiga jam. Dalam perjalanan itulah, tepat pukul 1.40 siang telah terjadi peristiwa mengenaskan yang selamanya akan merubah pikiran kami, para New Zealander yang selama ini selalu percaya bahwa negara ini -yang terkadang saking jauh dan kecilnya sering terlupakan dari peta dunia- sebagai negara aman ternyata telah menjadi target serangan teror yang berakhir dengan duka mendalam. Siang itu, seorang teroris membawa senjata semi otomatis memasuki masjid Al Noor yang berlokasi di Christchurch dan membabi buta menembaki jamaah. Tidak berhenti disitu, dalam waktu 15 menit sang teroris melanjutkan aksinya menuju Linwood Islamic Centre yang berjarak 5 Km dari masjid Al Noor lalu kembali melakukan aksinya.

Yang lebih tidak bisa dicerna dengan akal sehat adalah pelaku melakukan video streaming saat melakukan aksi terornya. Video berdurasi 17 menit inilah yang secara cepat beredar dan menghebohkan dunia. Saya beserta rombongan yang sedang di dalam kapal baru akhirnya mengetahui kejadian mengerikan ini sekitar pukul 2.20 pm dari whatsapp group Umat Muslim Indonesia yang berada di Wellington. Shock dan kaget menjadi respon kebanyakan orang termasuk saya, muncul berbagai pertanyaan di kepala, bagaimana mungkin, negara seaman dan seindah ini menjadi korban terror yang selama ini hanya kami saksikan di TV yang terjadi di negara lain.

Bagai sedang bermimpi di siang bolong , saya masih tidak bisa mencerna peristiwa ini. Saat itu saya pun belum menyadari berapa korban dan apa yang sedang sebenarnya terjadi. Berbagai SMS dan pesan masuk ke handphone saya menanyakan kabar kami. Ya Allah, it is really happening. Tidak kuasa saya menangis karena sedih mendalam yang saya rasakan. Bagaimana teganya seorang bisa melakukan pembunuhan keji terhadap orang lain hanya karena perbedaan ras dan agama. Pikiran saya melayang memikirkan nasib para korban, nasib para anak-anak yang ditinggal ayahnya, nasib istri yang ditinggal suaminya. Apa salahnya orang-orang ini yang sedang menjalani shalat dalam masjid secara damai namun harus menjadi korban keganasan teroris terkutuk.

Via internet, kami terus memantau perkembangan dan menangis setiap kali mendapati jumlah korban jiwa yang dinyatakan terus bertambah, ya Allah, kenapa banyak sekali?

Berdasarkan keterangan terakhir kepolisian sampai tanggal 17 Maret 2019, serangan terror ini telah memakan korban jiwa sebanyak 50 orang, 50 orang lainnya masih dirawat intensif di rumah sakit. Doa saya, Insya Allah para korban adalah para syuhada yang telah dinanti di surganya Allah SWT. Semoga keluarga yang ditinggalkan tabah dalam menerima cobaan ini, dan semoga korban yang saat ini masih dalam perawatan bisa kembali kepada keluarga dalam kondisi pulih dan sehat kembali.

Kehangatan warga Selandia Baru

Dibalik duka mendalam dari kejadian ini, ada kisah yang sangat menginspirasi saya untuk menulis. Hati saya menghangat mendapati respon masyarakat New Zealand khususnya para non Muslim yang secara cepat tanggap menunjukkan simpati dan dukungannya terhadap kaum muslimin di New Zealand. Teroris yang berniat menghancurkan hubungan baik yang selama ini terjalin antara muslim dan non muslim di New Zealand tidak akan pernah berhasil mencapai tujuannya. Sejak kejadian, dukungan yang diberikan oleh non muslim kepada muslim di New Zealand seakan membuka tabir keindahan hubungan antara sesama manusia menjadi semakin berlipat-lipat.

Hari Sabtu, sehari setelah kejadian, pintu rumah kami diketuk oleh seorang tetangga yang selama ini belum kami kenal. Beliau datang dengan membawa rangkaian bunga yang indah sambil memberikan ucapan simpati terhadap kejadian kelam di hari Jumat kemarin.

Buket bunga dari tetangga yang memberikan simpati (foto : Siti Aisyah)

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda