Aktualita

Muslim Versus Muslim dalam Pilpres

Pilpres tidak seharusnya dibuat untuk menuding sesama muslim adalah orang munafik (foto ilustrasi : Mark Adriane/Unsplash)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Serang menyerang antarmuslim dengan menggunakan ayat Quran plus hadis Nabi  dilakukan secara  melampaui batas (ghuluw), sehingga melanggar prinsip-prinsip ajaran Islam sendiri.

Inilah aspek paling runyam  dan bikin kisruh umat  dalam Pemilihan Presiden 2019. Apalagi kalau bukan  soal Islam. Agama yang diyakini penganutnya membawa rahmat bagi semesta ini digunakan para para suporter muslim untuk menyerang pendukung muslim lainnya. Serang menyerang antarmuslim dengan menggunakan ayat Quran plus hadis Nabi ini dilakukan melampaui batas (ghuluw), sehingga melanggar prinsip-prinsip ajaran Islam sendiri. Ajaran Islam yang bersifat multitafsir, harus diakui, memang memberi peluang bagi tumbuhnya sikap-sikap ghuluw yang termanifestasikan dalam ucapan-ucapan yang mengandung kebencian, tuduhan-tuduhan keji (fahsya’),  tindak kekerasan dan perbuatan-perbuatan ekstrem lainnya. Apalagi jika hanya ditangkap secara harfiah.  

‘Perang” muslim melawan muslim dalam pilpres  yang sesngguhnya bersifat duniawi ini, karena motif utamanya memperebutkan kekuasaan, bukan hanya memecah persudaraan (ukhuwah) tetapi juga telah memunculkan semacam kesimpulan hukum. Salah satunya adalah  bahwa muslim yang mendukung atau memilih calon tertentu masuk dalam golongan orang-orang munafik (munafiqun). Menuduh sesama muslim munafik ini tidak hanya subur di media sosial, tetapi juga marak dalam khutbah-khutbah Jum’at dan berbagai pengajian. Padahal, Nabi Muhammad sendiri tidak pernah mencap seorang muslim munafik.

Syahdan, di Madinah dikenal  seorang tokoh berpengaruh bernama Abdullah bin Ubay. Ucapan-ucapan dan perbuatan pemuka suku Khazraj ini sering dinilai   merugikan kaum Muslim. Hampir setiap fitnah waktu tu  selalu melibatkan dia. Termasuk dalam berita hoax (haditsul ifki) yang menimpa istri Nabi, Aisyah r.a. yang dituduh selingkuh. Meski begitu, ketika   Abdullah bin Ubay sakit,  Rasulullah s.a.w.  menyempatkan diri untuk membesuknya. Betapapun, di permukaan Abdullah bin Ubay menunjukkan dirinya sebagai seorang Muslim. Oleh karena itu pula, ketika putra Abdullah bin Ubay, yang juga bernama Abdullah,   datang menemui Nabi,  meminta salah satu kain Rasulullah saw untuk dijadikan sebagai kafan bagi ayahnya, Rasulullah  mengabulkannya.  Kemudian ketika Abdullah juga meminta  Rasulullah untuk menshalatinya, beliau pun berkenan.

Waktu itu Umar bin Khaththab, sempat menarik baju Rasulullah,  dan berkata: “Wahai Rasulullah, Anda akan menshalatinya? Bukankah Allah melarangmu untuk menshalatinya?”

Rasulullah menjawab: “Sesungguhnya Allah SWT memberikan kepadaku dua pilihan kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka.  Meskipun  kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, Allah  tidak akan memberi ampunan kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. (QS at-Taubah:80) Dan saya akan menambahnya lebih dari tujuh puluh kali.”

 Umar berkata: “Sesungguhnya dia itu orang munafik.”

Setelah Rasulullah saw menshalati jenazah Abdullah bin Ubay,  barulah turun ayat: “Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangi  (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam Keadaan fasik. (QS. At-Taubah:84).  

Itulah gambaran orang munafik, yang bahkan Nabi Muhammad sendiri tidak mengetahuinya kecuali Allah yang memberitahunya. Yakni orang yang berpura-pura mengikuti ajaran agama Islam, namun sebenarnya hati mereka memungkirinya. Mereka  tidak beriman namun berpura-pura beriman. Dan  Abdullah bin Ubay merupakan representasi dari perilaku kemunafikan (nifaq) atau hipokrisi yang berkaitan dengan akidah,dimana hanya Allah belaka yang mengetahui apakah seseorang itu munafik atau tidak. Ini pula yang disebut nifaq besar, yang dapat mengeluarkan seseorang dari keislamannya dan menggugurkan seluruh amalnya..

Rasulullah menshalati Abdullah bin Ubay  ketika itu mengacu kepada pengakuan Abdullah bin Ubay bahwa ia seorang Muslim. Dan Islam mengajarkan ummatnya untuk memperlakukan manusia sesuai dengan kondisi yang diperlihatkan, sedangkan  urusan hati dan batinnya adalah kewenangan Allah SWT.

Lalu bagaimana dengan hadis Nabi yang menyatakan tanda-tanda orang munafik? Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah bersabda : “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, yaitu; jika berbicara berdusta, jika berjanji mengingkari dan jika dipercaya berkhianat.” Inilah jenis hipokrisi atau nifaq kecil, yakni perbedaan antara lahir dan batin yang tidak bersangkut paut dengan akidah. Jenis hipokrisi yang satu ini  bisa menimpa siapa saja, termasuk  setiap orang yang beriman. Karena itu Anda boleh saja bertanya: “Siapa di antara kita yang sama sekali bebas dari dari satu dua butir hipokrisi sebagaimana ditengarai oleh Nabi?” Dengan kata lain, tanda-tanda hipokrisi yang dikemukakan Nabi tersebut merupakan bagian dari kelemahan manusiawi. Nabi bersabda, “Sudah diturunkan hipokrisi kepada satu kaum yang lebih baik dari kamu.” Justru karena itu kita bermohon kepada Allah, dalam satu doa yang  diajarkan oleh Nabi: “Allahumma inni a’udzu bika minasy syiqaaqi wan-nifaaqi wa suu-il akhlaaq (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari perpecahan,dari sikap hipokrit dan khlak yang buruk).” (Hadis riwayat Abu Daud dan Nasa’i.

Agaknya jenis munafik model Abdullah bin Ubay-lah yang  yang dituduhkan kepada sesama uslim pada musim pilpres 2019. Jadi, bukan hipokrisi jenis kedua  sebagaimana disinyalir Nabi, yang bisa menempel kepada siapa saja. Termasuk para pendukung pasangan calon 01  maupun pendukung calon 02.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda