Aktualita

Teror Selandia Baru dan Ancaman Kaum Ultranasionalis

Mengangkat tagar #headscarfforharmony, komunitas Muslim Selandia Baru menggelar gerakan Jumat berhijab pada 22 Maret sebagai bentuk solidaritas dan duka cita kepada para korban serangan. Pada hari yang sama, warga Selandia Baru menyimak azan sholat Jumat yang dikumandangkan secara langsung di sejumlah radio dan televisi.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengatakan pemerintahannya tengah menggarap undang-undang pelarangan semua jenis senjata semi-otomatis. Peraturan diharapkan mulai berlaku pada 11 April. 

Hanya selang tiga hari setelah penembakan masjid di Christchurch, insiden penembakan trem terjadi di Utrecht, Belanda, menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai sembilan lainnya. Penyelidikan untuk memastikan motif di balik serangan masih terus berlangsung. Namun sebuah laporan menyebutkan, kakak Gokmen Tanis, si pelaku penembakan trem, memiliki hubungan dengan kelompok ekstrimis Turki. Tidak bisa dimungkiri, serangan masjid di Christchurch, penembakan trem di Utrecht maupun serangan sejenis lainnya tidak bisa dilepaskan dari identitas politik, agama, etnisitas maupun kebangsaan.

Supremasi kulit putih maupun serangan-serangan teroris berlatar belakang sentimen ras sebetulnya bukan baru pertama muncul. Namun, peristiwa-peristiwa politik seperti kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang cenderung memandang sekelompok orang (baca: kaum imigran) punya ‘derajat’ yang berbeda, telah menyuburkan aksi-aksi teror tersebut dan mendorong munculnya ekstrimis-ekstrimis baru. Konflik tak berkesudahan di berbagai belahan dunia, seperti ketegangan Israel-Palestina yang kerap memicu aksi-aksi radikalisme, memperparah situasi.

Itulah sebabnya, menurut Retno, kunci-kunci ketegangan global harus cepat diselesaikan. Ia mengatakan serangan di Christchurch mengingatkan semua pihak bahwa tidak ada negara yang kebal terhadap terorisme. Serangan Christchurch juga merupakan testamen masih kurangnya pemahaman publik bahwa Islam agama yang damai. “Kita harus mencegah agar pemikiran ‘benturan peradaban (clash of civilizations)’ tidak terjadi,” ungkap Menlu, merujuk hipotesis Samuel Huntington yang menyebutkan bahwa identitas budaya dan keagamaan masyarakat akan menjadi sumber utama konflik di dunia paska Perang Dingin.

Retno lebih jauh mengingatkan banyak kepentingan umat yang sedang menghadapi tantangan. Itulah sebabnya Menlu mengatakan OKI harus bersatu dalam menangani tantangan umat, termasuk opresi yang terus terjadi terhadap bangsa Palestina.

Sudah menjadi pemahaman bersama umat bahwa Islam berasal dari kata ‘salam’ atau damai. Keterlibatan umat Muslim untuk mewujudkan ‘salam’ — damai dan keselamatan — menjadi sebuah keutamaan karena “memang itulah hakikat Islam,” ungkap KH Ali Yafie. Islam adalah ‘rumah keselamatan’, ‘rumah kedamaian’, ia menandaskan.

Sebagai penyuara kedamaian, Islam telah mengajarkan betapa keberagaman tidak seharusnya memicu konflik atau perpecahan karena perbedaan bangsa dan suku sengaja dirancang Allah s.w.t. agar umat bisa saling mengenal, sebagaimana Allah berfirman, “Ya ayyuhan-nasu inna khalaqnakum min zakariw wa unsa  wa ja’alnakum  syu’ubaw wa qaba’ila lita’arafu inna akramakum ‘indallahi atqakum innallaha ‘alimun khabir (Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku  agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orag yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti)” (QS Al Hujurat (49):13).

Jelas, tujuan keberagaman dalam penciptaaan adalah pengenalan. Keberagaman tidak seharusnya memicu sikap saling merendahkan. Kebanggaan atas identitas kelompok sendiri hanya akan membawa kerusakan, sehingga melalui surah tersebut, Allah s.w.t. meminta umat manusia agar menghindarkan diri pada sikap suka saling membanggakan kelompok sendiri dan saling mencela.

Alquran mendorong manusia agar dapat menerima kenyataan bahwa keberagaman adalah keniscayaan. Ia juga mengajarkan bahwa hubungan antar sesama yang dilandasi sikap saling menghormati yang dibangun di atas keragaman akan membawa kemaslahatan yang lebih luas bagi umat.

Perdamaian yang kini tengah terkoyak oleh beragam sikap superioritas tidak akan dapat tercipta tanpa membangun fondasi toleransi yang kuat: Mau menerima perbedaan.

Aliya Herawati

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda