Aktualita

Teror Selandia Baru dan Ancaman Kaum Ultranasionalis

Membangun toleransi: Menteri Luar Negeri RI Retno L.P. Marsudi (tengah) menyampaikan pernyataan dalam Konferensi Tingkat Menteri Darurat Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Istanbul, Turki, pada Jumat (22/3). Konferensi membahas tragedi penembakan masjid di Christchurch serta upaya OKI menangkal ujaran kebencian kepada umat Muslim. (Photo Courtesy: Kementerian Luar Negeri RI)
Ditulis oleh Panji Masyarakat

Penembakan brutal jemaah sholat Jumat di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, belum lama ini memperlihatkan ketegangan rasial belum sepenuhnya usai — jika bukan bersifat laten dan siap meletup sewaktu-waktu. Serangan ekstrimis ultra kanan tersebut menewaskan sedikitnya 50 orang, termasuk seorang bocah berusia tiga tahun, yang tengah beribadah di Masjid Al Noor dan Linwood. Lilik Abdul Hamid, 57, insinyur asal Indonesia yang bekerja di Selandia Baru, juga tewas dalam serangan.

Brenton Tarrant, 28, warganegara Australia, disebut-sebut berbagai laporan media sebagai pelaku serangan yang menayangkan secara langsung (live streaming) kebrutalan aksinya menembaki para korban di laman akun Facebook miliknya. Tarrant mengakui dalam sebuah manifesto dirinya rasis. Ia juga menyebutkan serangan bermotif anti-imigran.


Inti prinsip serangan Tarrant adalah keyakinan dia bahwa masyarakat Eropa “berangsur habis” dan “digantikan” oleh para imigran yang memiliki budaya berbeda, inferior dan membahayakan, jurnalis BBC Dominic Casciani melaporkan.

Keyakinan yang diperjuangkan Tarrant pada dasarnya merupakan kode kebencian atau ketakutan terhadap warga Muslim, di mana sebagian teori tersebut menyebutkan negara dan korporasi tengah mendorong “genosida warga kulit putih” dengan terus mengedepankan arus imigrasi untuk mempertahankan keberlanjutan kapitalisme global, Casciani menambahkan.

Insiden penembakan masjid di Selandia Baru pada 15 Maret tersebut tak urung menimbulkan keprihatinan dunia. “Indonesia mengutuk keras aksi terorisme yang terjadi di Masjid Al Noor dan Linwood di Christchurch, Selandia Baru,” ungkap Menteri Luar Negeri RI Retno L.P. Marsudi dalam salah satu dari tujuh pesan kunci yang ia sampaikan pada Konferensi Tingkat Menteri Darurat Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Istanbul, Turki, pada 22 Maret lalu. Konferensi membahas tragedi penembakan masjid di Christchurch serta upaya OKI menangkal ujaran kebencian kepada umat Muslim.

Retno juga menyampaikan kecaman atas pernyataan yang dikeluarkan oleh Senator Australia Fraser Anning, yang mengatakan program imigrasi telah melempangkan jalan bagi kaum fanatik Muslim untuk bermigrasi ke Selandia Baru. Menlu menegaskan pernyataan Senator Anning “tidak bertanggung  jawab”,  “menyakitkan” dan “ofensif”.

Sebagai anggota Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK PBB), kata Retno,  Indonesia, bersama-sama Kuwait, telah menginisiasi pernyataan dewan untuk mengecam keras tragedi Christchurch yang merenggut sejumlah korban jiwa, termasuk warganegara Indonesia.

Serangan Christchurch sendiri membangkitkan serangkaian aksi solidaritas. Tak cuma para pemimpin politik yang menyampaikan reaksi kecaman, beragam komunitas masyarakat ikut meluapkan kemarahan. Aksi Will Connolly, remaja Australia berusia 17 tahun yang nekad melempar telur ke kepala Senator Anning, menuai pujian. Lantunan azan diperdengarkan di Trafalgar Square, London, Inggris, pada 21 Maret untuk menghormati korban teror Christchurch.

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda