Bintang Zaman

Sosok The Grand Old Man

Pembicara Ulung dan Ahli Debat

Pada tahun 1915 Haji Agus Salim bergabung dengan SI. Ia berhubungan dengan organisasi ini pada tahun 1915 sebagai seorang “anggota seksi politik dari kepolisian.” Ia tidak populer dalam periode pertama Sarekat Islam itu, tetapi ia berhasil untuk mencapai suatu kedudukan kepemimpinan dalam periode-periode berikutnya, terutama dalam membentuk dan memberi isi pada SI dengan warna Islam. Setelah menjadi anggota SI, Haji Agus Salim menjadi pemimpin organisasi ini di samping Tjokroaminoto. Seperti diketahui, semula SI  satu-satunya pergerakan rakyat yang berpolitik. Sampai Tjokroaminto meninggal dunia pada 1934, Haji Agus Salim menjadi pemimpin yang mendampinginya, atau menurut istilah di kemudian hari H.O.S. Tjokroaminto dan Haji Agus Salim merupakan dwitunggal.

Pada 1921 Agus Salim menjadi anggota Volksraad atau Dewan Rakyat, menggantikan Tjokroaminoto. Selama menjadi angota Volksraad,  Haji Agus Salim dikenal sebagai pembicara ulung dalam bahasa Belanda; ahli debat yang lincah dan tajam dalam kritik. Tak jarang pula ia menjadikan lawannya sasaran tertawaan. Tidak mengherankan jika jarang orang yang berani bedebat dengannya. Pada tahun 1923, Haji Agus Salim keluar dari Dewan Rakyat, yang dinilainya tidak lebih dari “komidi ngomong”. Pada saat  itu, Salim yang menjadi anggota Volksraad, memunculkan kekecewaan partainya terhadap pemerintah dengan mempergunakan bahasa Indonesia untuk pertama kalinya dalam sidang-sidang dewan ini.  Sarekat Islam pun resmi menempuh politik yang dinamakan “non-kooperasi”, yang juga dianjurkan oleh Perhimpunan Indonsia di Nederland. Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikan Soekarno pada tahun 1927 juga menempuh jalur politik “non-kooperasi”.

Setelah Tjokroaminoto meninggal, Salim memimpin Dewan Partai, sedangkan Lajnah Tanfidziyah berada di tangan Abiksuno Tjokrosujoso, adik kandung Tjokroaminoto. Perbedaan anara sebelum dan sesudah Tjokroaminoto meninggal adalah bahwa sebelum tahun 1934 Tjokro dan Salim berhasil memegang kepemimpinan partai, sedangkan setelah itu Salim justru menjadi korban dengan naiknya Abikusno, yang bukan hanya memecat Haji Agus Salim dan kawan-kawan dari Barisan Penyadar seperti Roem dan Sangaji, tetapi juga Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo, yang berpihak kepada Abikusno ketika saudara Tjokroaminoto itu bertikai dengan Haji Agus Salim. Setelah tahun 1936 itu Haji Agus Salim seolah menyingkir dari kegiatan politik, karena merasa tidak nyaman menghadapi berbagai pertikaian di antara pemimpin partai. Kegiatannya disalurkan dengan memberikan ceramah melalui radio NIROM   (Nederlands Indische Radio Omroep Maatschapij) dan PPRK (Perkumpulan Pemancar radio Ketimuran), sampai Jepang masuk ke Indonesia. Pada zaman  pendudukan Dai Nippon ini ia bekerja sebagai penasehat di sebuah kantor Jepang, untuk membantu menemukan istilah yang tepat dalam bahasa Indonesia bagi buku-buku yang diterjemahkan dari bahasa Jepang. Untuk mencukupi kebutuhan hidup  mereka  keluarga Salim juga terlibat dalam usaha produksi dan pemasaran arang.   Menjelang proklamasi Haji Agus Salim menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha  Untuk Persiapan Kemerkaan Indonesia. Dia juga menjadi anggota panitia kecil yang dibentuk Badan penyelidik,   yang terdiri dari sembilan orang dan diketuai Soekarno, yang kemudian menghasilkan apa yang dinamakan Piagam Jakarta. Bersama Husein Djajadiningrat dan Supomo, Agus salim juga mendapat tugas melakukan perbaikan redaksional terhadap rancangan UUD 1945. Sesudah proklamasi, dalam pemerintahan Republik Indonesia, Haji Agus Salim beberapa kali duduk dalam kabinet: Menteri Muda Luar Negeri pada Kabinaet Sjahrir II (1946) dan Kabinet Sjahrir III (1947), Meneri Luar Negeri pada Kabinet Amir Sjarifuddin (1947) dan pada Kabinet Hatta (1948-1949). Haji Agus Salim juga pernah diasingkan oleh Belanda bersama Presiden Soekarno dan Sjahrir ke Brastagi dan kemudian dipindahkan ke Prapat, menyusul pendudukan Yogyakarta oleh Belanda pada 20 Desember 1948. Mereka kemudian dipindahkan ke bangka dikumpulkan bersama Hatta dan kawan-kawan, sebelum akhirnya kembali ke Yogyakarta waktu pemerintah RI dipulihkan pada 6 Juli 1949. Mungkin karena usianya yang sudah lanjut, pada tahun 1950 Salim tidak lagi menjabat Menteri Luar Negeri, tetapi tenaganya masih diperlukan sebagai penasehat ahli Menteri Luar Negeri. Pada tahun 1953 Salim berangkat ke Amerika Serikat, memenuhi undangan Cornell University, untuk memberikan serangkaian kuliah mengenai gerakan Islam di Indonesia. Kembali ke Tanah Air pada akhir tahun itu juga, Salim mulai tampak sakit-sakitan. Pada ulang tahunnya yang ke-70 sahabat dan murid-muridnya mempersembahkan buku Djedjak Langkah Hadji Agus Salim, yang berisi karangannya dari waktu ke waktu. Pada 4 November 1954 Haji Agus Salim tutup usia di kediamannya di Jalan Gereja Theresia, Jakarta Pusat

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

1 Comment

Tinggalkan Komentar Anda