Tasawuf

Si Bodoh yang Pemurah dan Ahli Ibadah yang Bakhil

Memberi sesuatu (foto Loli Clement/unsplash)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Orang-orang yang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka

Berkata Anas ibn Malik (wafat 179 H./796 M.): “Zakat atas rumah adalah bahwa hendaknya sebuah kamar di sediakan di dalamnya untuk tamu.” Imam pendiri salah satu mazhab fikih ini ketika menerima Syafi’i,  waktu itu usianya 20 tahun dan tentu saja belum disebut Imam, menjadi muridnya. Di Madinah, Imam Malik tak hanya menyediakan pondokan, tapi juga mengongkosi hidup pemuda Syafi’i. Imam pula yang membiayai perjalanan murid kesayangan ini ke beberapa tempat.

Pernah suatu hari Syafi’i melihat beberapa ekor kuda dari Khurasan dan beberapa ekor keledai dari Mesir di samping rumah sang Guru. Semuanya bagus-bagus. Maklum kuda kiriman. Rupanya masih ada seekor kuda yang lebih bagus yang diikat di muka pintu rumah.Syafi’i yang semur-umur belum pernah melihat kuda sebagus dan segagah itu kontan saja berkata: “Oh, bagus sekali kuda ini.”

“Inilah yang akan saya berikan kepadamu, Abu Abdillah,” kata Imam Malik, yang rupanya mendengar perkataan muridnya itu.

“Ah, jangan. Biarlah kuda ini untuk Guru, untuk kendaraan Guru sendiri.”

“Saya malu kepada Allah menginjak tanah Rasulullah dengan kaki kuda saya,” jawab Imam Malik.

“Dari beliau aku dapat belajar, dan tidak seorang lebih banyak memberi bantuan kepadaku selain beliau,” kata Imam Syafi’i  di lain waktu, mengenang sang Guru.

Adapun sang murid sendiri tak kalah dermawannya. Prnah dalam salah satu perjalananya dari Shan’a (Yaman) ke Mekkah, Syafi’i membawa uang 10.000 dinar. “Anda harus membeli budak dengan uang itu,”berkata seseorang yang menjumpainya. Syafi’i kemudian menggelar tenda di luar Kota Mekkah dan menumpahkan dinar-dinarnya. Dan kepada setiap orang yang melewatinya ia memberikan. Ketika waktu dzuhur tiba, dia berdiri mengibas-ngibaskan kantung jubahnya – uangnya ternyata ludes sudah.

Diceritakan, suatu hari Imam berjalan-jalan di pasar, mengendarai keledai. Tiba-tiba tongkanya jatuh di depan tukang sepatu. Seketika tu seorang karyawan pembuat sepatu itu mengambilkan tongkat tadi dan membersihkannya dengan lengan bajunya. Syafi’i kemudian turun dari kendaraannya, merogoh sakunya dan berkata kepada si Tukang Sepatu: “Tolong berikan ini kepada pegawai Anda itu.”

Menurut salah satu muridnya, Imam Rabi’, uang yang diberikan gurunya 7 sampai 9 dinar.

Berkata Imam Abu Tsaur: “Imam Syafi’i adalah seorang dermawan, dan termasuk seorang yang murah tapak tangannya.”

Imam meyakini benar bahwa Allah menciptakan makhluk-Nya dengan persediaan rezeki yang cukup. Maka tidak sepatutnya seseorang menimbun pemberian rezeki pemberian Allah tersebut, karena mungkin rezeki yang banyak ditumpuk itu diperlukan orang lain.

Mungkin karena saking dermawannya, ketika wafat pada tahun 204 H/820 M di Kairo, Imam tidak meninggalkan harta kecuali wasiat agar Gubernur Mesir menyucikannya. Pak Gubernur yang mahfum atas kandungan di balik surat wasiat itu, setelah memandikan jenazah Imam, kemudian berkata kepada keluarganya:

“Apakah Imam punya pinjaman?”

Jawabannya “Ya”. Setelah itu Pak Gubernur yang dermawan itu memerintah salah satu stafnya untuk segera melunasi utang-utang Imam. “Inilah artinya saya diminta untuk menyucikan beliau,” katanya.

Salah seorang sahabat yang dikenal kedermawanannya adalah Ali ibn Abi Thalib. Suatu hari, seseorang mendapatkan Amirul Mukminin sedang menangis.

“Apa yang membuat Anda menangis, Amirul Mukminin,” kata orang itu.

“Tidak seorang pun tamu yang datang kepadaku selama seminggu. Aku takut kalau Allah SWT telah menghinaku.”

Menurut Ibrahim ibn Al-Junaid, ada empat hal yang tidak boleh dihindari seseorang, hatta dia seorang penguasa. Yakni berdiri dari tempat duduknya untuk ayahnya, melayani tamunya, melayani seorang ulama yang pernah menjadi gurunya, dan bertanya tentang apa yang tidak diketahuinya.

“Orang-orang yang dermawan dekat dengan Allah Ta’ala, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka. Sedangkan orang yang bakhil jauh dari Allah, jauh dari manusia dan dekat dengan neraka. Orang bodoh yang pemurah lebih disukai Allah daripada orang yang rajin beribadah tapi bakhil.” (Hadis riwayat Tirmidzi, Baihaqi dan Thabrani).

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda