Aktualita

Humanisme Nabi dan Nasib Non Muslim di Hari Akhir

Islam adalah agama yang menjunjung tinggi humanisme meskipun terhadap orang yang berbeda agama (ilustrasi foto : steinar engeland/unsplash)
Ditulis oleh Panji Masyarakat

*Ubaidillah

Seorang mahasiswa bertanya kepada dosen, “Pak, setelah meninggal, di mana tempat orang-orang non Muslim yang telah berjasa dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga karya-karya mereka banyak dinikmati seluruh umat manusia. Apakah nanti mereka berada di surga atau neraka?” Apakah saat ini ketika di alam barzakh mereka tidur dengan damai karena mendapat kiriman amal dari karya-karya mereka, atau mereka sedang mengalami pengalaman pahit dengan malaikat penjaga kubur?” Jika mereka tergolong ahli neraka karena keimanannya, berarti Tuhan tidak adil, bukankah jasa mereka sangat bermanfaat bagi umat manusia!

Demi menjawab pertanyaan ini, sang dosen hanya mengajak mahasiswanya untuk menyimak kembali sirah nabawiyah (biografi Nabi Muhammad) terutama yang berkenaan dengan paman beliau, Abu Thalib. Abu Thalib sangat menyayangi Rasulullah saw. Sejak Nabi Muhammad berusia 8 tahun sang paman sudah mengasuhnya, demi menjalankan amanat ayahanda sang paman, Abdul Muthalib, sebelum beliau meninggal dunia. Sang paman yang dalam riwayat tidak mau menerima ajakan Nabi Muhammad untuk memeluk Islam hingga akhir hayatnya, ia tetap melindungi beliau, bahkan rela mengorbankan nyawa sekalipun demi kemenakan tercinta. “Kalian tidak akan dapat menyentuh Muhammad sebelum kalian menguburkanku” begitu di antara ucapan pembelaan sang paman kepada kemenakannnya. Dukungannya terhadap dakwah kemenakannya pun total, ketika Nabi Muhammad akan menyampaikan risalah kenabian untuk pertama kalinya di hadapan Bani Hasyim meskipun dihujat oleh Abu Lahab,  “berdirilah dan katakanlah apa yang akan engkau katakan. Sebarkan misi Tuhanmu, karena engkau adalah Al Amin,” demikian sang paman membesarkan hati kemenakannya.

Meskipun demikian berjasa pembelaan sang paman terhadap kemenakannya dan agama Islam, tetap saja dalam riwayat hadis yang shahih sang paman akan berdiam di neraka, meskipun dengan siksaan yang terringan karena enggannya sang paman untuk mengikuti agama yang didakwahkan pamannya tersebut.

Siksa yang paling ringan bagi penduduk neraka adalah siksaan terhadap Abu Tholib, yaitu ia memakai sandal yang membuat otaknya mendidih (HR Muslim:317)

Dari kisah ini, setidaknya ada beberapa pelajaran yang kita petik. Meskipun betapa besar jasa seseorang bagi umat manusia, jika ia tidak beriman kepada Allah dan Nabi terakhir-Nya, Muhammad saw., ia tetap tidak dapat menerima surganya Allah. Jika dilihat dari jasanya, Abu Thalib termasuk orang yang memiliki andil besar dalam penyebaran Islam pada periode awal di Mekah, sebagai cikal bakal tersebarnya agama Islam secara universal hingga saat ini. Betapa besar jasa Abu Thalib untuk menegakkan agama Islam yang juga bisa kita rasakan hingga negara kita saat ini. Bukankah itu hasil jerih payah pengorbanan sang Paman? Lantas, mengapa sang Paman tetap berada di neraka?

Menganggap non Muslim sebagai penghuni neraka, bukan keniscayaan

Meskipun demikian, Islam tidak pernah mengajarkan kepada pemeluknya untuk memandang sebelah mata kepada non muslim. Nabi Muhammad biasa bergaul dengan pemeluk agama lain selagi mereka tidak menyakiti, melukai, atau memerangi umat Islam. Humanisme tetap dijunjung tinggi. Adalah sebuah kesalahan jika di dunia ini kita memandang rendah mereka hanya karena beda keimanan, bahkan sampai mengklaim mereka sebagai penghuni neraka.

Ketegasan masuknya non-muslim ke neraka hanya bisa diyakini jika sampai akhir hayat mereka tidak mengubah agamanya menjadi agama Islam. Posisi non muslim berada di neraka baru bisa dipastikan ketika mereka meninggal dunia. Mengenai hal ini, kembali bisa kita lihat bagaimana peristiwa Abu Thalib menjelang kematiannya.

Dikisahkan oleh Musayyab bin Hazan yang redaksi lengkapnya tertulis dalam Ath-Thabaqat al-Kubro karya Ibn Sa’ad, al-Mu’jam al-Kabir karya Ath-Thobari, dan Shahih Ibn Hibban: Bahwa menjelang kematian sang Paman, Nabi Muhammad saw sebagai kemenakan tercinta ikut hadir di dalam kamar beserta Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah. Menjelang sakaratul maut Abu Thalib, Nabi Muhammad mengajak pamannya untuk mengucapkan kalimat tauhid dengan mengatakan, “Wahai pamanku, ucapkanlah Laa Ilaaha illa Allah, aku akan menjadi saksi dengan ucapan itu di sisi Allah kelak”, tetapi Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah, yang keduanya beragama pagan, penyembah berhala, yang juga berada di kamar itu, mengingatkan agar Abu Thalib tetap mengikuti agama nenek moyang mereka dengan mengatakan “Wahai Abu Thalib, apakah engkau membenci agamanya Abdul Mutholib, bapakmu?”. Sampai nafas terakhir, sang paman memutuskan untuk tetap berada pada agama nenek moyangnya, yakni agama penyembah berhala.

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda