Muzakarah

Boneka, Patung

Dengan kata lain, jika tujuan membuat patung-patung itu untuk atau dikhawatirkan akan dijadikan sesembahan, maka hukumnya haram. Tapi jika semata-mata untuk apresiasi seni, tentu itu boleh-boleh saja.

Dalam perspektif usul fikih, penetapan hukum seperti ini disebut saddudz dzara-i’ (menutup jalan bagi perantara-perantara): Suatu proses penetapan hukum yang lebih mengacu kepada akibat dibanding substansi. Patung, misalnya, diharamkan bukan karena dzat atau substansinya, tapi karena ia (bisa) dijadikan perantara (dara-i’) penyembahan selain kepada Allah.

Perlu segera ditambahkan, belakangan ini mulai disadari bahwa patung-patung itu tidak hanya bermuatan seni tapi juga punya nilai historis. Umat-umat terdahulu, seperti orang-orang Mesir kuno, Persia, Romawi, dan lainnya menuliskan sejarah peradaban mereka dalam bentuk lukisan, gambar atau ukiran di atas batu-batu. Mengkaji sejarah serta menyelami ilmu dan kesenian mereka akan mendorong kepada kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban. Dari peninggalan-peninggalan tersebut kita bisa belajar tentang bahasa, adat istiadat, dan pengetahuan mereka di bidang kedokteran, pertanian, perdagangan, bahkan taktik perang. Barangkali itu sebabnya, Alquran sangat memberikan penghargaan kepada orang-orang yang mempelajari peninggalan bangsa-bangsa terdahulu (QS 22: 46; 29: 20; 30: 9, 44).

Pada dataran perspektif ini kita menghargai pameran-pameran yang digelar untuk menyingkap peninggalan-peninggalan peradaban masa lalu.

Mari sekarang kita bicara soal boneka. Ternyata tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama bahwa mengoleksi boneka itu boleh. Hal ini berdasarkan pada beberapa hadis sahih yang dikisahkan Aisyah, istri Nabi Muhammad s.a.w. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim bahwa Aisyah berkata: “Dulu saya senang bermain-main boneka. Kadang-kadang Rasulullah s.a.w. datang sewaktu saya sedang bermain dengan boneka-boneka kecil” (HR Bukhari-Muslim).

Juga diceritakan oleh Aisyah bahwa ketika Nabi pulang dari Perang Tabuk, ia (yang dinikahi Nabi dalam usia yang sangat belia) buru-buru menutup raknya. Tiba-tiba angin berhembus kencang dan menyingkap boneka-boneka kecil di dalam rak tersebut. “Apa itu, Aisyah?” tanya Nabi. Aisyah menjawab, “Boneka-bonekaku”. Nabi lantas mengamati boneka kuda yang memiliki dua sayap, “Ini apa?” tanyanya. “Kuda,” jawab Aisyah. “Ada apa di atasnya?” tanya Nabi lagi. “Dua sayap,” yang ditanya menjawab. “Kuda memiliki dua sayap?” Nabi menampakkan keheranannya. “Tidakkah Nabi mendengar bahwa kuda Nabi Sulaiman mempunyai sayap-sayap,” berkata Aisyah. Mendengar kata-kata ini, Nabi pun tertawa hingga kelihatan gigi gerahamnya (HR Abu Daud dan Nasa’i).

Hadis-hadis di atas secara gamblang menunjukkan bahwa Nabi s.a.w. tidak melarang Aisyah mengoleksi boneka-boneka berbentuk makhluk hidup. Rupanya, boneka-boneka tersebut oleh Nabi tidak dikhawatirkan akan dijadikan sesembahan.

Edisi 008 – 15 Maret 2019 (PANJI NO. 11 Tahun 1 – 1997)

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda