Adab Rasul

Rendah Hati

ilustrasi pasar di Arab (foto Annie Spratt/unsplash)
Ditulis oleh Abdul Rahman Mamun

Hari itu Rasulullah tengah berjalan sendirian di Kota Makkah. Seorang perempuan tua terlihat sedang menunggu seseorang yang bisa dimintai tolong membawakan barang- barangnya. Begitu Nabi melintas di depannya, perempuan itu pun memanggil, “Hai
orang Arab! Tolong bawakan barang ini ya, nanti aku bayar.”

Rupanya Nabi memang sengaja lewat di hadapan perempuan tua itu, dengan maksud siapa tahu bisa membantunya. Maka, Muhammad SAW pun menghampirinya, dan segera mengangkat barang-barang itu sambil mengatakan, “Aku akan mengangkatkan barang-barangmu, Nek, dan nggak usah merisaukan soal bayaran.” Keduanya lalu berjalan beriringan menuju ke satu tempat. Di tengah-tengah perjalanan, perempuan itu menasehatkan sesuatu, “Hei, saya dengar dari kabar yang beredar di Kota
Makkah ini ada seseorang yang mengaku Nabi, namanya Muhammad. Hati-hatilah ya kamu
dengan orang itu. Jangan sampai kamu tertipu, terperdaya dan mempercayainya.”

Nenek itu sama sekali tidak tahu bahwa laki-laki yang sedang bersamanya itu adalah
Rasulullah, Sang Nabi yang sedang diceritakannya.
Mendengar hal itu Muhammad SAW pun tak hendak menyembunyikan identitasnya. Sembari tetap membantu mengangkat barang-barang perempuan itu ia pun menyampaikan dengan sopan, “Aku inilah Muhammad, Nek..”

Nenek itu pun terperangah begitu menyadari laki-laki yang menolongnya adalah Muhammad yang diceritakannya. Saat itu juga nenek itu langsung meminta maaf dan kemudian justru menyatakan lebih percaya pada Muhammad daripada kabar yang dia dengar. Bahkan akhirnya ia pun bersyahadat, “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah adalah utusan Allah.”
Tak bisa menyembunyikan kekagumannya, Nenek itu juga memuji adab dan perilaku Rasulullah
.
“Sungguh kamu memiliki akhlak yang luhur,” kata perempuan tua itu. Rasulullah Muhammad SAW pernah menyatakan dalam sebuah kesempatan
sebelumnya, “Sesungguhnya aku tidak diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang
baik”.

Dalam buku Kaifa nata’amal ma’al al-Quran tulisan Yusuf al-Qardhawi disebutkan salah
satu tujuan dari syari’at Islam adalah untuk menyucikan hati manusia dan meluruskan akhlak

Tentang Penulis

Abdul Rahman Mamun

Tinggalkan Komentar Anda