Aktualita

Hidup Bukan Mampir Padu

Suluk Maleman menghadirkan Anis Soleh Baasyin
Ditulis oleh Panji Masyarakat

Pemilhan umum bukan disikapi seperti peperangan. Selow saja

Padu atau adu mulut yang akhir-akhir ini nyaris membudaya di kalangan masyarakat kembali menjadi sentilan dalam gelaran Suluk Maleman yang digelar Sabtu (16/3) hingga Minggu (17/3) dini hari kemarin.
Bahkan peribahasa “hidup sekadar mampir minum” pun mulai berubah menjadi sekadar mampir padu. Plesetan itu lantaran sekarang ini masyarakat terlalu mudah meributkan sekalipun pada hal-hal kecil.

Keironisan justru terlihat pada grup media sosial yang sekarang ini ada. Orang mudah mencaci dan membenci maupun memuja bahkan sekalipun tanpa pernah saling mengenalnya. Tak hanya itu grup medsos keluarga pun kerap berujung keributan
hanya lantaran perbedaan pendapat.
Padahal dari kebencian-kebencian itulah yang justru berdampak besar. Aksi teror seperti yang terjadi di Selandia Baru pun dinilai sebagai produk yang dilahirkan dari adu domba dan penanaman kebencian. Kebencian sendiri bisa berlangsung hingga puluhan
tahun.

Dalam ngaji budaya yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia tersebut, Anis Sholeh Baasyin pun mengingatkan agar agama jangan diperumit lantaran hakikatnya sederhana. Agama dihadirkan sebagai salah satu wasilah agar manusia bisa selamat
sampai tujuan. “Inti agama justru menyadarkan kalau manusia hanya lewat di Bumi. Dunia ini
bukanlah tujuan atau tempat akhir dari manusia. Tapi yang terjadi sekarang ini wasilah justru jadi bahan perselisihan,” tambahnya.

Tanpa disadari, orang yang tengah cekcok justru seringkali merasa tengah berjuang seperti di perang badar. Tak terkecuali fanatisme dalam memilih pemilu.
Padahal seharusnya pemilu sebatas tentang cara atau alat memilih pemimpin. “Kalau sudah seperti ini apa mungkin setiap lima tahun harus perang? Padahal
Rasulullah setelah perang Badar mengingatkan jika itu hanyalah jihad kecil. Jihad akbar
justru saat harus melawan diri sendiri,” terang penggagas Suluk Maleman tersebut.


Oleh karena itulah dirinya mengingatkan jika umat Islam harus senantiasa menjadi saksi. Yakni yang selalu melihat dan menunjukkan kebenaran. Dengan begitu umat Islam diharuskan adil. Baik terhadap kawan maupun lawan. “Jika memang salah katakan salah, jika benar katakan benar. Jangan gara-gara
teman yang salah dikatakan benar begitu sebaliknya,”tegasnya.

Agar dapat selamat, dia pun menyebut jika manusia seharusnya tidak terikat dengan apapun yang ada di dunia. Dia pun menyebut untuk melihat sesuatu harus
dilihat jangan dari kemasan atau citranya saja.
“Bahkan ada yang mengatakan jika ingin menilai seseorang jangan saat berada di masjid. Pasti terlihat bagus semua. Tapi lihatlah saat berada di pasar,” imbuhnya. Anis juga menegaskan jika persoalan dukung mendukung di dunia politik itu
sekarang hanyalah bagian dari transaksional biasa. Setiap elit politik akan dengan mudah berubah dari mendukung menjadi oposisi dan sebaliknya bila keadaan berubah.

“Tapi di tataran masyarakat persoalan itu menjadi sangat lama dan menimbulkan luka. Apa kita mau setiap lima tahun membuka luka baru,” ujarnya.

Budi Maryono, seorang penulis juga mengingatkan dalam menghadapi pemilihan presiden seharusnya bisa dilakukan dengan sederhana saja. Pilpres bukanlah pertempuran maupun peperangan.
“Namanya pemilihan, siapapun yang mendapat suara terbanyak bukan berarti menang dan yang sedikit bukan berarti kalah. Hanya yang terpilih. Kalau belum terpilih tentu perkara yang sederhana,” tambahnya.

Pilihan tema yang menarik itupun membuat suasana ngaji budaya menjadi begitu hangat. Terlebih dengan penampilan Sampak GusUran semakin memeriahkan acara yang dihadiri ratusan orang tersebut.

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda