Muzakarah

Tentang Nikah Siri

Ada lagi kasus lain, yaitu ketika orang tua calon pengantin perempuan tidak mau menjadi wali, lalu ia mewakilkan pada orang lain di tempat si anak berada. Tapi, tak jarang pula calon pengantin wanita menunjuk modin (pembantu Kantor Urusan Agama atau KUA) sebagai walinya.

Menurut saya, perkawinan seperti itu, setidaknya, kabur hukumnya (syubhat)—antara halal dan haram. Sehubungan dengan itu, saya kutipkan hadis Rasulullah s.a.w.: Wa man yarta haulal hima yusyaku an yaqa a fthi (Barangsiapa yang bermain di sekitar daerah larangan, di-khawatirkan ia masuk ke dalamnya). Jadi, demikian beliau menitahkan, orang sebaiknya menghindari perkara syubhat, agar tidak terjerumus ke dalam perkara haram.

Dari kacamata hukum dan pedagogi, wali orang tua itu wajib dalam suatu perkawinan yang sah. Sebab pada saat itulah terjadi peristiwa besar dalam sejarah orang tua, yakni menyerahkan anak yang dibesarkannya selama ini kepada orang lain. Memang betul, seperti disinggung Rani, anak yang beranjak dewasa tidak selamanya menggantungkan masalahnya kepada orang tua. Namun, itu tidak berarti orang tua tidak boleh campur tangan lagi dalam soal perkawinannya.

Dalam banyak hal, perkawinan siri memang merugikan kedua belah pihak, khususnya pihak perempuan. Sebab, jika muncul rnasalah menyangkut hak-hak perkawinan, hal itu tidak dapat diajukan ke sidang pengadilan karena tidak melalui perkawinan yang sah menurut undang-undang. Karena itulah, sebaiknya perkawinan semacam itu dihindari sejauh mungkin.

Walimah alias resepsi memang sunah, tapi ia menyimpan banyak hikmah, seperti dijelaskan dalam kitab-kitab fikih. Antara lain agar pernikahan diketahui tetangga dan handai tolan terdekat, sehingga jika mereka terlihat berduaan atau hidup serumah, tidak timbul prasangka negatif lagi.

Jawaban Redaksi Panji.

Untuk lebih memperjelas persoalan nikah siri, ada bagusnya kita menyinggung masalah saksi yang, dalam pandangan Islam, merupakan hal serius dalam perkara ini. Persaksian .juga berguna sebagai tameng bagi hak-hak anak. Dengan adanya saksi-saksi, seorang suami tidak bisa mengelak dari tanggung jawab dengan, misalnya, mengingkari anak yang lahir dari rahim istrinya.

Hukum Islam menggariskan, pernikahan tidak sah tanpa kehadiran dua orang saksi yang terpercaya, adil. Dalam hal ini seluruh ulama bersatu pendapat: Persaksian dua orang yang terpercaya merupakan syarat sahnya nikah. Sebuah hadis Imam Ad-Daruquthni dari Aisyah mengatakan: La budda fin-nikahi min arba ah: al-wali, wazzaujy, wasy-syahidain. Dalam suatu pernikahan, tidak boleh tidak mesti ada empat pihak: Wali, suami, dan dua orang saksi. Bahkan, menurut mazhab Maliki, jika diembeli-embeli dengan suatu pesan dari suami kepada para saksi agar merahasiakan pernikahannya kepada orang lain (mereka menyebut ini nikah siri), maka perkawinan itu batal (fasakh) sebagai talak ba’in (tanpa idah) manakala pasangan itu sampai berhubungan sebadan.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda