Cakrawala

Baiti Jannati, Rumahku Surgaku

Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Menciptakan home bukan sekadar house

Sebuah bangunan beratap dan berdinding. Itulah rumah dalam pengertiannya yang paling sederhana. Fungsinya juga sederhana: mula-mula tempat berlindung dan berteduh sejumlah manusia, dan kemudian tempat bermukim dari musim ke musim. Dengan demikian, manusia akan terlindung dari hal-hal yang tidak diinginkan, yang bisa mengancam keberlangsungan eksistensi biologisnya.

Dalam bangunan yang disebut rumah itu manusia membangun peradaban: berhimpun untuk bekerja sama melakukan berbagai fungsi untuk menjamin kelangsungan hidup mereka, seperti berproduksi, berkonsumsi, bereproduksi untuk melestarikan keturunan, dan kemudian membangun sarana-sarana perlindungan. Jadi rumah tidak hanya berfungsi biologikal, tapi juga sosial dan kultural.

Tidak mengherankan, jika dalam perkembangannya kemudian, rumah-rumah pun didesain sedemikian rupa bagi tumbuhnya sebuah keluarga yang sejahtera dan bahagia. Inilah mungkin yang digambarkan Rasulullah s.a.w. bahwa rumahku adalah surgaku, baiti jannati. Rumah-rumah bagi keluarga urban, misalnya, bangunannya dirancang apik, dengan dinding tembok, atap genting dan lantai ubin, plus perabotan yang tidak hanya fungsional tetapi juga ditata dengan sentuhan-sentuhan artistik. Ruangan pun dibagi-bagi dalam sekian ruangan fungsional. Tujuannya tidak lain utuk menjaga larasnya hubungan di antara penghuni. Dengan penataan ruangan sedemikian rupa, maka rumah pun memiliki ruang makan sebagai tempat anggota keluarga untuk bersantap dalam suasana riang, ruang keluarga yang dilengkapi perlengkapan audio visual, tempat orangtua dan anak-anaknya berkumpul dan bercengkerama, ruang tidur utama tempat ayah-ibu menumpahkan cinta dan memadu kasih sayang, ruang tidur dan belajar anak-anak, kamar mandi tempat anggota keluarga membasuh diri dan menyegarkan tubuh setelah seharian beraktivitas, dan seterusnya.

Tak syak lagi, rumah keluarga seperti yang digambarkan itu, bukan lagi sebagai house melainkan sudah menjadi home. Dia bukan sekadar bangunan tapi sebuah suasana, yang menawaarkan kedamaian dan kasih sayang. Dalam atmosfir yang demikian itu maka rumahku pantas disebut sebagai surgaku. Membangun suasana yang surgawi itulah sekarang tampaknya lebih sulit ketimbang membangun sebuah house yang apik.
Memang telah menjadi sebuah ironi dalam kehidupan kita sekarang: orang-orang modern dengan kecakapan teknologinya telah berhasil membangun kota-kota besar berikut fasilitasnya, tetapi gagal menguasai kecakapan sosialnya untuk membangun sebuah rumah kecil yang bersuasana surgawi yang disebut home itu. Jika kita tidak ingin rumah-rumah kita kehilangan auranya sebagai home, maka tidak ada jalan lain bagi kita untuk kembali kepada nilai-nilai keluarga, nilai-nilai spiritualitas, yang selama ini memang absen di rumah kita. Karena disadari atau tidak, rumah kini cenderung hanya berfungsi sebagai sleeping quarters, dan tempat menyimpan baju dan sepatu.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda