Hamka

Hamka Bapak Jurnalisme Islam Indonesia

Buya Hamka (foto koleksi Afif Hamka)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Sebelum dikenal sebagai ulama besar, Hamka berkecimpung di dunia pers melalui majalah Pedoman Masyarakat yang terbit di Medan pada  1935.

Pers Indonesia, tidak bisa dipisahkan dengan kehadiran media Islam yang telah berkembang pada awal abad ke-20. Media ini tidak hanya memuat konten keislaman, baik dari aspek ajaran maupun masyarakat penganutnya, tetapi juga menyuarakan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Salah satu figur yang mewarnai sejarah pers Islam di Indonesia adalah  Haji Abdul Malik Karim Amrullah alias Hamka. Jurnalis-jurnalis Muslim yang menonjol pada era itu antara lain Z.A. Ahmad yang memimpin majalah Panji Islam, dan sebelumnya Haji Fachrodin, AktivisMuhamadiyah dan Sarekat Islam, yang mendirikan Bintang Islam pada tahun 1922, dan Soewara Moehammadijah di Yogyakarta.       

Sebelum dikenal luas sebagai ulama terkemuka, penulis Tafsir Al-Azhar dan ketua umum pertama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini mengawali kariernya sebagai jurnalis. Yakni ketika menjadi pemimpin redaksi Pedoman Masyarakat yang terbit di Medan. Majalah yang mengusung tagline  “Memajukan Pengetahuan dan Peradaban Berdasarkan Islam” ini didirikan pada tahun 1935 saat dia berusia 28 tahun. Ia dibantu oleh M. Yunan Nasution yang lebih fokus pada manajemen perusahaan, selain menerjemahkan berita atau konten berbahasa Belanda atau Inggris, yang memang tidak dikuasai oleh Buya Hamka.

Hamka bersama keluarga (foto koleksi Afif Hamka)

Seperti dikemukakan James R. Rush, penulis biografi Hamka, isi  Pedoman Masyarakat mencerminkan rasa ingin tahu Hamka yang amat luas mengenai segala hal di dunia, dan juga bersifat internasional. Hamka, sebagaimana digambarkan Yunan Nasution, adalah orang yang banyak membaca dan belajar. Ia sangat menyayangi koleksi buku  yang dia bawa ke Medan. Sebagian besar buku-buku koleksinya  berbahasa Arab, termasuk terjemahan karya Inggris dan bahasa-bahasa Barat lainnya dalam bahasa Arab. Buku-buku itu membahas filsafat, sejarah, tasawuf dan akhlak. Yunan Nasution pernah menunjukkan buku Wither Islam karya HAR Gibb,  dengan spontan ia mengambil sebuah buku di raknya yang yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab berjudul Wijhatul Islam, karya orientalis itu. Hamka, menurut Nasution, biasa membaca berjam-jam hingga larut malam. Hamka menguasai bahasa Arab karena belajar bahasa Arab kepada ayahnya, Haji Karim Amrullah alias Haji Rasul, ia pernah tinggal di Mekah selama enam bulan dan bekerja di sebuah percetakan di sana milik mertua Syekh Ahmad Khatib Minangkabau. Pada waktu itulah ia antara lain mengisi waktunya membaca kitab-kitab mengenai keislaman selain karya orang-orang Barat yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.  

Mula-mula Pedoman Masyarakat hanya beroplah 500 eksemplar. Namun berkat kegigihan si Malik, nama panggilan Buya kala itu, bersama pemuda Batak Islam tadi, tiras majalah itu melonjak menjadi 5.000 eksemplar dan diedarkan ke seluruh Indonesia. Padahal masa itu  dikenal zaman sulit karena sedang terjadi malaise atau kelesuan ekonomi di seluruh dunia, yang  tentu berdampak ke Indonesia.  Hamka dikenal seorang penulis yang cepat, dan karena itu sangat produktif. Berbagai macam ditulis oleh Buya mulai dari pengetahuan umum, agama, sejarah, dunia perempuan, dunia,  falsafah hidup, sampai roman.  Di majalah inilah lahir karya-karya  Hamka yang kemudian dibukukan  antara lain dalam  Merantau ke DeliTenggelamnya Kapal Van Der WijkTasauf Moderen , Falsafah Hidup, dan lain-lain.

Tak hanya memuat tulisan-tulisan Hamka dan Nasution, Pedoman Masyarakat juga memuat tulisan-tulisan  Soekarno, yang waktu itu hidup dalam pembuangan di Bengkulu, H. Agus Salim, dan M. Natsir, KH Mas Mansyur, hingga tokoh perempuan seperti Rangkayo Rasuna Said. Bahkan secara khusus Hamka pernah mewawancarai Bung Karno di Bengkulu. Meski Hamka dan Nasution berhasil mempertahankan Pedoman Masyarakat dari berbagai kesulitan, termasuk kelangkaan kertas, majalah ini harus tutup pada masa pendudukan Jepang.

Tahun 1959 Hamka menerbitkan majalah Panji Masyarakat yang merupakan gabungan antara Pedoman Masyarakat dan Panji Islam. Majalah yang memiliki keterikatan dengan organisasi Muhammadiyah ini tidak hanya beredar di Indonesia, tetapi juga di Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam. Majalah yang dikenal cukup kritis terhadap rezim Demokrasi Terpimpin ini kemudian diberedel pada tahun 1960 karena memuat karangan Bung Hatta “Demokrasi Kita”. Tulisan bapak Proklamator ini mengandung kritik tajam terhadap pemerintahan Soekarno yang cenderung otoriter, menyimpang jauh dari prinsip-prinsip dan nilai  demokrasi. Buya sendiri kemudian dijebloskan ke penjara, dan baru dibebaskan setelah kekuasaan Soekarno berakhir. Semasa di bui itulah ia menulis magnum opus-nya yaitu Tafsir Al-Azhar.

Setelah rezim Soekarno tumbang pada tahun, menyusul peristiwa Gestapu pada tahun 1965, Panji Masyarakat terbit kembali pada 5 Oktober 1966. Setelah itu Panji Masyarakat berkembang menjadi media Islam yang cukup disegani. Hal ini tentu tidak terlepas dari figur Buya Hamka sebagai ulama terkemuka di Indonesia, bahkan Asia Tenggara, yang namanya terus meroket seiring dengan pengangkatannya sebagai ketua umum MUI Pusat. Sepeninggal Buya, Panji Masyarakat diteruskan oleh putranya, H. Rusydi Hamka, dan  pada tahun 1997 diteruskan oleh B. Wiwoho dkk. sampai tutup pada 2001. Tahun ini, tepatnya 8 Maret 2019, Panji Masyarakat terbit kembali dalam format yang berbeda, tetapi dalam spirit yang sama dengan para pendahulunya. 

Sumber: James R. Rush, Adicerita Hamka, Visi islam Sang Penulis Besar untuk Indonesia Modern (2017).

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda