Mutiara

Empat Pilar Kemuliaan, Juga untuk Para Pemimpin

Menjadi pemimpin (ilustrasi foto Jordan Steranka/Unsplash)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Saudara-saudara, siapakah orang yang paling berani?”

“Engkau.”

Benar, memang, jawaban orang-orang itu. Namun Ali ibn Abi Thalib r.a., yang bertanya, melanjutkan: “Aku hanya dapat mengalahkan setiap orang yang berhadapan dengan aku. Jadi, katakan kepadaku, siapakah orang yang paling berani?”

Sejurus tidak ada jawaban dari para sahabat Nabi yang lain. Lalu Sayidina Ali berkata: “Orang yang paling berani di antara kita adalah Abu Bakr. Ketika Perang Badar, setelah kami membuat perlindungan untuk Nabi, kami bertanya siapa yang menjaga beliau di situ.” Tidak ada yang menjawab, kecuali Abu Bakr, kata menantu Nabi itu. “Abu Bakr-lah yang menghadang setiap musuh yang mencoba mendekati tempat Nabi.”

Selain kepada Abu Bakr, Ali juga memuji keberanian Umar ibn Al-Khattab r.a. “Tidak seorang pun yang berhijrah yang tidak dengan jalan sembunyi-sembunyi, kecuali Umar ibn Al-Khattab.”

Memang. Dan kita tahu, baik Abu Bakr, Umar, maupun Ali, nama-nama yang tersebut itu, adalah sama-sama penerus kepemimpinan Rasulullah s.a.w., di samping Utsman ibn Affan. Sejarah menyebut keempat khalifah itu sebagai khulafaur-rasyidun.

John Bright, seperti dikutip Allan Nevins dalam kata pengantarnya untuk buku John F. Kennedy,  Profiles in Courage, mengatakan banyak orang tidak menjadi negarawan besar, hanya kebetulan memegang jabatan besar. Mereka harus menunjukkan bukti-bukti lain untuk kebesaran mereka. Dan, di antara bukti-bukti yang diperlukan, keberanian adalah salah satunya.

Keberanian,  atau courage atau syaja’ah dalam bahasa Arab, dalam lektur tasawuf merupakan salah satu dari empat pilar kemuliaan seseorang. Tiga lainnya adalah ‘iffah yaitu menjaga kehormatan, hikmah atau cepat belajar dari pengalaman kehidupan, dan ‘adalah alias sifat adil. Seperti diungkapkapkan Buya Hamka dalam Tasauf Modern, keempat keutamaan ini masing-masing punya dua kutub ekstrem.

Yang pertama syaja’ah (keberanian), kutub-kutub ekstremnya adalah tahawwur dan jubun. Buya menerjemahkan tahawwur dengan istilah berani babi alias nekad. Akal sehat sudah mengatakan, sesuatu tidak boleh ditempuh, toh ia berani menempuhnya. Berani model begini biasanya muncul lantaran marah atau oleh dorongan nafsu membalas. Orang bijak mengatakan, lebih baik sebuah kapal dipermainkan badai, dan kehilangan pedoman, ketimbang dinakhodai oleh seorang pemarah.

Sebenarnya marah tidak selalu tercela. Tapi, menurut kalangan tasawuf, Cuma dalam dua hal marah dipujikan. Yakni marah karena mempertahankan kehormatan dan marah karena mempertahankan keyakinan (agama). Selebihnya orang kudu hati-hati. Soalnya, dari sifat tahawwur  akan muncul sifat-sifat tercela sebagai ikutan. Semisal kotor mulut, perajuk, keras kepala, mau menang sendiri, bossy alias suka memerintah tetapi tidak suka mengerjakan, atau menganggap remah. Kelakuan pemimpin atau pembesar yang suka mengumbar berbagai tuduhan, misalnya, atau lekas terpancing – emosional – dalam menghadapi berbagai kritik, barangkali dikarenakan sikap tahawwur ini.

Sebaliknya jubun, mati hati, alias rendah gengsi (kagak punya jaim). Sudah demikian dihina, tidak juga harga diri tergerak. Orang demikian biasanya mau-mau saja direndahkan asalkan kesenangan jasmaninya tidak terganggu. Kalau ada pejabat yang mau disogok, dia sudah terkena penyakit jiwa yang satu ini. Jubun juga dekat-dekat dengan “mental tempe”, meminjam istilah Bung Karno dulu, atau “ayam sayur”. Manusia bermental seperti ini biasanya sudah kalah sebelum bertanding.

Yang kedua, ‘iffah. Kutub atasnya adalah syarah. Artinya obral atau “bocor”, bahasa pelesetannya “ember”. Dia tidak punya penghalang atawa filter dalam dirinya untuk menahan sesuatu, dan selalu ingin tahu urusan orang. Yang ditanyakan sebuah, jawabannya bisa 20. Orang lain bicara 1 menit, dia satu jam sendirian. Kutub bawahnya adalah khumud, yaitu tidak peduli. Mau dunia dihajar gempa, diterjang tsunami, dihantam banjir bandang, orang-orang saling bunuh, tetap saja dia asyik dengan dunia dan khayalannya sendiri. Jangan lagi ditanya apakah dia punya empati atau sense of crisis – krisis jenis apa pun!

Lalu hikmah. Ekstrem kirinya adalah terlalu cepat membuat  kesimpulan atau buru-buru mengambil keputusan. Ekstrem kanannya adalah dungu, kagak ngerti-ngerti juga. Sudah berkali-kali dihajar, tidak paham juga. Berpuluh-puluh kali mengalami, tidak jua mengambil pelajaran.

Terakhir ‘adalah.  Perangai ini juga punya dua lawan yang ekstrem. Yang pertama adalah zhalim atau aniaya. Yang kedua, muhanah atau hina-hati. Walaupun sudah berkali-kali dianiaya, tidak juga dia mau berontak. Bukan karena dia sabar, tapi lantaran tabiat kerbau.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda