Mutiara

Menebak Gejala

Hikmah ilmu: Orang berhikmah antara lain sebagai orang yang tahu "di balik yang tersurat". Tahu membaca zaman, tahu membaca pikiran dan perasaan, dan khususnya, dalam konteks sekarang, perasaan kolektif. (Courtesy of Simon Matzinger on Splash)
Ditulis oleh Panji Masyarakat

Barangkali tidak selalu kita sadari bahwa sikap iri, atau cemburu, tidak dipandang baik. Kecuali kepada dua orang. Itu menurut sabda Nabi s.a.w.- seperti diriwayatkan Abdullah ibn Mas’ud r.a. Yang dua orang itu adalah: “Orang yang diberi Allah harta yang banyak, dan diarahkan-Nya untuk menghabiskan harta itu dalam kebenaran. Dan orang yang diberi Allah hikmah, lalu mengamalkan dan mengajarkannya” (riwayat Bukhari).

Harta yang banyak kita tahu maksudnya. Tetapi hikmah tidak sejelas harta. Biasanya, orang menganggap hikmah sebagai sesuatu yang berhubungan dengan kebijakan (kearifan). Orang bijak bestari, menurut ungkapan sastra lama, adalah orang yang penuh hikmah. Namun kita juga acap bertanya, “Apa hikmah ajaran ini?” Dan yang kita maksudkan adalah manfaat atau tujuan positif yang merupakan rahasia ajaran itu. Jadi, hikmah berhubungan dengan sesuatu yang ‘rahasia’.

Kata hikmah sendiri cukup sering disebut dalam AlQuran, dan definisi yang diberikan para ahli tafsir bisa lebih banyak. Tafsir Al-Khazin, misalnya, yang digunakan orang pesantren, memilih pengertian hikmah sebagai “ketepatan dalam kata dan perbuatan”. Kitab ini menjelaskan, orang menganggap hikmah sebagai sesuatu yang bisa menyingkirkan kebodohan dan kesalahan. “Namun itu juga karena ketepatan dalam kata dan perbuatan, serta (kemampuan) meletakkan sesuatu pada tempatnya.” Dengan kata lain, apa yang diucapkan atau diperbuat selalu tepat dengan situasi, kondisi, proporsi, dan manfaat di masa mendatang yang mungkin tidak dilihat orang lain. Tentu saja, orang itu terhindar dari kesalahan dan kebodohan yang disebutkan itu.

Kadang-kadang juga sebuah definisi terasa seperti tidak menyangkut esensi, melainkan sarana ke arah esensi. Imam Malik, misalnya,seperti yang juga dimuat dalam Al-Khazin, menyebut hikmah sebagai “pengenalan kepada agama, pengetahuan mendalam tentang agama, dan kepatuhan melaksanakannya”. Tentu bisa dipahami bahwa ketiga-tiganya, terutama dua yang pertama (pengenalan dan pengetahuan mendalam) merupakan jalan ke arah pemilikan hikmah. Bahkan pelaksanaan agama pun ( butir ketiga) mendatangkan hikmah—karena faktor pengalaman keaga-maan, dalam pelaksanaan ajaran, layak-nya mendatangkan kebijakan.

Juga orang yang menganggap hikmah sebagai “pemahaman tentang AlQuran” sendiri, bahkan Sunnah Nabi s.a.w. sendiri, telah meletakkan sarana pada posisi esensi. Ini dapat dipahami, karena demikian vitalnya sarana itu.

Lagi pula, banyak sekali ayat—yang menuturkan riwayat para nabi—menggandengkan dua hal itu: Al-Kitab dan Al-Hikmah. Sehingga, sehubungan dengan Nabi Muhammad s.a.w., kitab itu menjadi AlQuran, dan hikmah menjadi Sunnah. Padahal bisa pula dipikirkan, dalam hal para nabi, hikmah yang mereka ajarkan itu kiranya adalah butir-butir yang lebih halus, yang berhubungan dengan kitab, tetapi tidak selalu tertulis di situ, dan yang sekaligus merupakan sarana pengembangan sikap mulia dan bijak.

Fathul Bari menggandengkan ‘hikmah’ dengan ‘ilmu’. Lalu menyebut hikmah sebagai “sinonim yang menafsirkan” ilmu. Dengan kata lain, hikmah boleh disebut “ilmu” juga, tetapi “ilmu” yang lanjut, yang bukan al-fana, bukan disiplin. Itulah kiranya yang dimaksud hadis di atas untuk diajarkan oleh mereka yang diberi anugerah—meski pengajarannya pun tentunya hanya akan berbuah bila si penerimanya juga mendapat karunia Allah, alias “berbakat”.

Definisi berikut menunjuk kepada yang lebih abstrak. Hikmah adalah “pengetahuan tentang hakikat segala”.

Hakikat bukan substansi. Sebab mustahil orang menguasai substansi segala hal. Hakikat adalah sesuatu yang lebih dalam, lebih inti, dan di situ substansi-substansi bertemu. Karena itu penguasaannya adalah mungkin, seperti mungkinnya memegang satu kendali untuk menguasai segalanya.

Adapun definisi yang mengartikan hikmah sebagai “pemisah antara yang hak dan yang batil” sebenarnya menunjuk kepada fungsi. Begitu juga ujaran, “Setiap kalimat yang bisa mewejang engkau, atau memanggil engkau ke tindak mulia dan melarang engkau dari tindak buruk, itulah hikmah”.

Al-Manar memberikan definisi yang kembali kepada ciri hikmah sebagai ‘rahasia’. Hikmah adalah, “dalam segala hal, pengetahuan tentang rahasia hal-hal itu, dan faedah-faedahnya”. Sedangkan khu-sus tentang agama, barangsiapa mendalam pengetahuannya mengenai agama, memahami berbagai rahasia dan maksud-maksudnya, bolehlah orang berkata, “Ia telah dikarunia hikmah yang dinyatakan Allah (Al-Baqarah: 269): “Barangsiapa beroleh hikmah, ia telah beroleh anugerah yang besar sekali.” Demikian Al-Manar.

Dapat dipahami, hikmah menyangkut anugerah ketuhanan. Yakni bila ia berhubungan dengan kemampuan kemanusiaan yang didapat dengan karunia Allah. Adapun bila ia berhubungan dengan rahasia-rahasia pada seluruh alam ciptaan, seluruh ihwal dan proses, bahkan kebahagiaan dan bencana, ia menyangkut kebijaksanaan i ketuhanan. Tidak mustahil secuil rahasia kebijaksanaan itu dianugerahkan-Nya kepada hamba-Nya, yang menjadi menyatu dengan kualitas-kualitas dalam dirinya dan mempengaruhi tindak-tanduknya. Maka orang itu kita sebut hakim, orang bijak, orang arif. Seperti “Orang Bijak dari Lautan” dalam Surah Al-Kahfi, yang dalam hadis diperkenalkan sebagai (Nabi) Khadhir. Atau tokoh kuno yang disebut dalam AlQuran sebagai Luqman alias Luqman Al-Haqiem (Luqman: 12-19). Akan tetapi itu adalah contoh-contoh yang “tinggi”. Untuk relevansi sehari-hari, kita cukup mengartikan orang berhikmah antara lain sebagai orang yang tahu “di balik yang tersurat”. Tahu membaca zaman, tahu membaca pikiran dan perasaan, dan khususnya, dalam konteks sekarang, perasaan kolektif. Jika, seperti Fathul-Bari, kita mengidentikkan hikmah dengan ilmu, maka ilmu untuk itu, di zaman ini, kiranya adalah ilmu-ilmu sosial. Ya. Termasuk psikologinya. Orang berhikmah adalah orang yang bisa menebak gejala. Ia punya perangkat teori yang berdasarkan tak lain pada sunnatullah untuk setiap insan dan setiap masyarakat. Ilmu-ilmu itu memberinya kearifan dalam pendekatan. Ia orang yang ‘mengerti’. Dan bisa menghindarkan setiap ledakan.

H.S.A. AIDID

EDISI 002 – 9 MARET 2019 (PANJI NO. 02 TAHUN – 28 APRIL 1997)

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda