Tafsir

Yang Bagus, yang Shahih, yang Asing

Ilustrasi alquran (syed hussaini/unpublish)
Ditulis oleh Panji Masyarakat

Celakalah orang yang dikaruniai Allah ilmu Al Quran, kemudian menyangka ada pemberian lain yang lebih berharga dari itu.” Hadis ini dimuat dalam Ihya Ulumuddin Al Ghazali, tanpa menyebut sumber pengambilan maupun sanadnya. Begitulah kebiasaan mayoritas kitab klasik di luar kitab hadis sendiri, tentu. Kecuali kitab seperti Jami’ul Bayan karya Thabari (224-310 H), penulis kitab tafsir pertama yang masih bisa kita warisi, yang lahir 20 tahun setelah meninggalnya Imam Syafi’i, yang sendirinya meriwayatkan hadis. Atau seperti Al-Jami’ liahkam al-Qur’an wa al-Mubayyin Lima Tadhammanahu Min as-Sunnah wa Ayi al-Furqan karya Qurthubi, ulama Cordoba yang hidup tiga setengah abad di belakang Thabari dan 60an tahun sesudah Ghazali, yang sendirinya mengeritik kitab-kitab agama yang suka memuat hadis tanpa “identitas”. Hadis-hadis dalam Al Jami’, karena itu, dia terakan paling tidak sumber pengambilannya, jika bukan komplet dengan sanadnya.

Misalnya hadis tentang “orang yang disibukkan Al Quran” itu (lihat: Ketenteraman dan Para Malaikat) yang aslinya berbunyi, “Barangsiapa disibukkan oleh Al Quran dan zikir kepadaKu dari memohon kepadaKu, Aku akan ,memberinya sesuatu yang lebih utama dari yang Kuberikan kepada para pemohon.” Hadis yang dikeluarkan Turmudzi ini (atau Tirmidzi, orang dari Termez, di perbatasan Afganistan, meninggal 35-an tahun sebelum Thabari) dinukilnya lengkap dengan catatan Turmudzi yang menilainya sebagai hasan gharib.

Hasan (bagus) adalah istilah untuk hadis yang tidak mencapai nilai sahih (absah) tetapi bisa dipegang. Semua mata rantai periwayat (disebut sanad) hadis hasan memang bersambung sampat kepada sahabat Nabi (r.a.), seperti juga pada hadis sahih. Tetapi di situ terdapat satu rawi (periwayat) yang dianggap kurang dhabith, kurang kuat ingatannya. Sedangkan istilah gharib (asing, langka, atau aneh) diberikan kepada hadis yang sanadnya hanya diisi satu-satu perawi. Penilaian hasan gharib juga diberikan kepada hadis yang dimuat terakhir, tentang orang yang mengeraskan dan memelankan suara bacaan Quran. Yang menarik, hadis tentang “alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf”, juga dari himpunan Turmudzi, dinilai penghimpunnya sendiri dengan tiga predikat sekaligus: hasan sahih gharib.

Adapun hadis panjang tentang akan bangkitnya “beberapa kekacauan (fitnah)”, yang hanya bisa ditangkal dengan Al Quran, yang lagi-lagi dikeluarkan Turmudzi, punya problem sehubungan dengan rawi yang namanya disebut di akhir teks, yakni A’war AsySya’bi, imam hadis yang besar, melekatkan predikat “dusta” pada diri A’war yang nama sebenarnya Al Harits ibn Abdillah Al hamdani ini.

Namun menurut Qurthubi, sebenarnya tidak nyata benar kedustaan A’war ini. Melainkan, “Kecintaannya yang keterlaluan kepada Ali r.a., dan sikapnya yang melebihkan beliau di atas yang Iain-lain, divoniskan kepadanya,” katanya. “Dari situlah tetapi Allah yang lebih tahu Sya’bi melekatinya dengan dusta.” Soalnya ialah karena Sya’bi melebihkan Abu Bakar, di samping meyakininya sebagai orang yang pertama kali masuk Islam. Berkata Ibn Abdil Barr: “Saya kira Sya`bi berdosa dengan kata-katanya mengenai Al Harits Al Hamdani (dalam sanad hadis) ‘Dituturkan kepadaku oleh Al Harits, dan dia salah seorang pendusta’…”

Tetapi tidak hanya bagi Syab’ai. Bagi mayoritas muslimin, urut-urutan masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan baru Ali, itu sendirinya menunjukkan urut-urutan kebesaran mereka. Abu Bakar adalah tokoh paling berjasa: ia menyelamatkan Islam dan masyarakat Islam dari ancaman kemurtadan, penolakan kewajiban zakat, pemberontakan suku-suku, dan munculnya nabi-nabi palsu begitu Nabi s.a.w. wafat, dengan aksi militer yang bahkan Umar ibn Al Khaththab mula-mula meragukan efektivitasnya. Sehingga orang mengatakan, secara sembarangan: tanpa Abu Bakar, Islam habis. Umar (satu-satunya tokoh Islam yang oleh Michael Hart ditulis dalam deretan orang paling berpengaruh dalam sejarah dunia, sesudah Muhammad s.a.w,, dalam bukunya The 100) adalah orang yang paling berjasa meluaskan bentangan wilayah Islam dengan penaklukan-penaklukannya, di samping punya banyak prakarsa dan peninggalan: pembentukan tentara “profesional”, tapal batas wilayah, mata uang, kalender Hijri, dan, jangan lupa, penyelenggaraan salat tarawih. Utsman, dalam pada itu, adalah tokoh yang berjasa menyatukan penulisan Al Quran dan mewariskan mushaf usmani, kitab Quran kita sekarang. Sementara Ali, itelektual dan pribadi yang mulia, penasihat Khalifah Abu Bakar dan hakim di masa pemerintahan Umar, memang tidak begitu jelas peninggalannya. Demikianlah sehingga kaum Syiah Zaidiyah (Yaman), yang ajarannya kurang lebih persis Ahlus Sunnah, dahulu dikucilkan karena, setidak-tidaknya sampai dua abad yang lalu, meyakini Ali r.a. sebagai yang paling mulia, dengan sikap berbau kultus.

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda