Tasawuf

Sebaik-baik uzlah, zuhud dan wara’

Sahabatku, mungkin anda masih ingat kisah Khalifah Abubakar dan Khalifah Umar, yang memuntahkan makanan dan susu yang telah diminumnya karena berpegang pada prinsip hidup wara’ tadi. Abubakar memiliki seorang budak yang selalu memberikan sebagian pendapatannya kepada beliau. Pada suatu hari ia menghidangkan sedikit makanan kepada Abubakar yang segera mencicipinya. Kemudian hambanya berkata, “Tuan, biasanya tuan selalu bertanya kepadaku, dari manakah penghasilanmu ini? namun pada hari ini tuan tidak menanyakannya”. Jawab Abubakar, “Aku sangat lapar sehingga tidak sempat menanyakannya. Sekarang jelaskan tentang makanan itu”.

Hambanya menjawab, “Pada zaman jahiliyah dulu, aku bertemu suatu kaum dan membacakan mereka mantera. Mereka berjanji kepadaku akan memberi imbalan atas jasaku. Dan pada hari ini aku melewati perkampungan mereka. Kebetulan mereka sedang melangsungkan pernikahan, jadi mereka memberiku makanan ini”. Abubakar langsung berteriak, “Kamu nyaris membinasakanku”. Ia pun dengan susah payah segera berusaha memuntahkan makanan yang telah ditelannya itu, sampai betul-betul berhasil.

Seorang sahabat yang melihatnya berkata, “Semoga Allah merahmati anda. Anda telah bersusah payah mengeluarkan isi perut anda, hanya karena sesuap makanan”. Jawab Abubakar, “Walaupun aku harus kehilangan nyawa untuk mengeluarkan makanan itu, pasti tetap akan kukeluarkan. Kudengar sabda Nabi SAW, “Badan yang tumbuh dengan makanan haram, maka api neraka pantas untuknya. Aku khawatir, jika sebagian dari badanku ini tumbuh dari makanan itu”.

Khalifah Umar pun memiliki pengalaman yang hampir sama dengan Abubakar. Suatu ketika ia mencicipi susu. Ternyata rasa susu itu lain dari biasanya, sehingga Umar langsung bertanya kepada si pembawa susu, dari mana dan bagaimana mendapatkannya. Orang itu menjawab, “Ada beberapa ekor unta hasil sedekah sedang merumput di hutan. Lalu para penggembala memerah sedikit susu dari unta-unta tersebut dan memberiku sedikit”. Mendengar itu, Umar segera memasukkan tangannya ke mulut, lalu memuntahkan semuanya.

Baginda Rasul juga mempunyai pengalaman yang membuatnya tidak bisa memejamkan mata sepanjang malam. Berkali-kali beliau gelisah mengubah posisi tidur, sehingga isterinya bertanya, “Mengapa engkau tidak dapat tidur, ya Rasulullah?” Jawab beliau, “Tadi ada tergeletak sebuah kurma. Karena khawatir kurma itu terbuang sia-sia, maka aku memakannya. Sekarang aku khawatir, mungkin kurma itu dikirim ke sini untuk disedekahkan”.

Itulah tiga contoh sikap kehati-hatian yang merupakan inti dari perilaku wara’. Kanjeng Nabi yang tidak bisa tidur dan Abubakar serta Umar yang memuntahkan isi perutnya, menggambarkan prinsip hidup dalam menyikapi harta yang meragukan, yang syubhat, apalagi yang haram. Sikap seperti itulah yang seyogyanya kita jadikan pegangan hidup.

Begitulah Sahabatku, jadi tasawuf itu tidak berarti meninggalkan sama sekali pesona dunia dengan hidup apa adanya di tempat-tempat nan sunyi-sepi. Namun jangan sampai pula hati kita terbelenggu oleh nafsu dunia, apalagi kemudian menutupinya berlagak membuat keseimbangan sebagai dermawan yang obral hadiah atau pun sedekah. Naudzubillah.

B. Wiwoho

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda