Aktualita

Menghadirkan Islam yang Damai dan Mencerahkan

Masalahnya kemudian adalah tidak semua manusia  memilih jalan pasrah ini. Sementara itu, manusia, siapa pun mereka, adalah makhluk ciptaan Allah yang berkedudukan sama mesti kita hormati hak-haknya. Oleh karena itu, ketika panji-panji Islam dikibarkan, kita tidak lantas dalam waktu bersamaan boleh merendahkan siapa pun, nonmuslim misalnya, alias wajib berlaku adil dan santun. Bahasa populernya moderat.

Petunjuk Alquran agar kita bersikap santun kepada siapa saja, termasuk mereka yang belum beriman, cukup banyak serta jelas. Misalnya kita disuruh walyatalaththaf atau bersikap lemah lembut (Q.S. Al Kahfi: 19).

Dalam berdakwah, mengajak ke jalan yang benar, yang lurus, Alquran mengenalkan istilah hikmah dan mau’izhah hasanah,  seperti dalam firman: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (Q.S. An Nahl: 125).

Entah kebetulan atau tidak, kalimat walyatalaththaf ini tertulis di tengah-tengah Alquran. Dalam Alquran cetakan Kementerian Agama Republik Indonesia, walyatalaththaf biasa dicetak tebal atau bertinta merah. Ayat tersebut seolah memberi kita isyarat untuk menjadi ummatan wasathan (umat tengahan).

Pesan yang ingin saya sampaikan adalah kita hendaknya tidak membuat model-model penghakiman kepada pihak lain, atau mempertajam perbedaan. Perbedaan itu sendiri sunatullah. Kita tidak dapat mengelak kenyataan itu. Sebaliknya, Alquran justru berkali-kali menganjurkan untuk memperjumpakan kesamaan atau titik temu (kalimatun sawa’).

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda