Pengalaman Religius

Sinar di Atas Madinah

Biasa berkutat dalam soal eksak, andi Hakim Nasoetion ‘kena batu’nya di Tanaih Suci. Ternyata, di sana, mantan rektor Institut Perlanian Bogor itu, yang akhir maret genap berusia 65 tahun, mendapat jawaban atas renungan, umpatan, dan prasangkanya tanpa teori kemungkinan atau jauh dari kesimpulan-kesimpulan umum. Guru Besar Fakuitas MIPA IPB ini menceritakan kepada Iqbal Setyarso dari Panjimas kisah-kisah yang baginya merupakan bukti bahwa Allah MahaPengatur.

Kita perlu kekuatan rezeki untuk menunaikan ibadah haji. Kalau tidak, kita hanya akan menjadi beban orang lain saja. Memang ada yang pergi haji sambil meminta-minta, karena tempat tinggalnya selangkah lagi ke Tanah Suci. Boleh jadi, seperti bahasa Sunda, predikat musafir diartikan peminta-minta. Padahal makna musafir itu kan orang yang melakukan perjalanan Itu sebabnya dikatakan, wajib berhaji itu adalah bagi mereka yang sudah punya uang belanja, baik untuk dirinya maupun untuk anak-anaknya. Pendeknya, yang ditinggalkan di rumah.

Saya mendapat pelajaran berharga dalam soal ini dari sekumpulan petani Bekasi, pada 1976. Saya satu kloter (kelompok terbang) dengan mereka. Sebelum berangkat, kami diminta mengisi kartu untuk pendaratan, waktu itu masih di Halim Perdanakusumah.

Melihat lembaran kartu, salah seorang petani itu bertanya, “Ini mau diapain?”

“Diisi,” kata saya.

Lalu saya tanya lagi, “Bapak dari mana?”

Dia bilang dari Bekasi. Waktu dia menanyakan kembali bagaimana mengisinya, saya bilang saya mau membantu. Saya tanya siapa namanya. Tapi kemudian saya pikir kenapa tidak saya lihat paspornya saja.

“Bapak namanya ini ya?” (saya sebut nama yang tertulis di paspornya).

Petani itu kaget. “Tahu dari mana? Katanya heran.

“Bapak petani, ya?” kata saya lagi.

“Tadinya ya.”

“Tadinya bagaimana?”

“Tadinya, saya petani, tapi sekarang tanahnya pan udah dijual ke teroyek (maksudnya proyek). Uangnya sebagian untuk pergi haji.”

Saya terperangah. Kalau tanah itu sudah dijual, makan dari mana dia pulangnya. Jawabannya, ternyata ringan saja, “Untuk dua tahunan, sih, masih ada buat hidup. Masa Tuhan nggak ngasih jalan,” katanya gagah. Mendengar jawaban itu, saya kagum. Jujur saya menilai, hebat betul imannya. Saya malu.

Obrolan pendek itu memberi perasaan luar biasa. Setelah selesai mengisi, saya suruh dia menandatangani katu itu. Ia tidak bisa. Ia ternyata buta hurup. Membaca aksara Arab pun, ia tak bisa. Muncul lagi pertanyaan saya. “Lantas, bagaimana doanya nanti?”

“Sudah”. hafal, Pak,” kata (mantan) petani itu.

“Kalau lupa, bagaimana?”

“Sapu jagad, Pak.”

Bukan main kepercayaan diri mereka ini. Umumnya, petani Bekasi yang satu kloter dengan saya, buta huruf dan mengandalkan hafalan. Hafalan ibarat “hidup atau mati” mereka dalam menunaikan ibadah haji. Mabrur tidaknya hanya Allah yang tahu.

Selain modal, kita juga harus memelihara fisik. Kewajiban siapa pun, baik muslimin maupun muslimah untuk menjaga kebugaran. Sering saya pikirkan, maaf saja, para kiai kita tak sedikit yang menderita penyakit, misalnya obesity. Kecuali KH Zainuddin M.Z. Orangnya kekar, kesehatan badannya terjaga. Yang lainnya, kena obesity, “gula”nya tinggi, merembet pada berbagai penyakit, karena terpesona dengan zikir saja. Padahal ada yang harus juga diperhatikan: kebugaran.

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda