Relung

Sebuah Pohon Di Bawah Matahari

bertsz/unsplash
Ditulis oleh Panji Masyarakat

Selalu ada alasan untuk menanam sebatang pohon. Dan selalu ada alasan, mestinya, untuk menancapkan awal kehidupan sebuah media pers. Apakah kiranya yang masuk ke dalam pikiran Buya Hamka ketika ia memutuskan menerbitkan Panji Masyarakat pertama kalinya?

Hamka memang bukan seorang pemula. Sejarah kehidupan pers di Tanah Air, yang berjalin dengan perjuangan kemerdekaan dan seluruh impian kemajuan bangsa, adalah sebuah wajah yang bagian-bagiannya yang berarti diguratkan oleh para jurnalis Islam, segera setelah pergantian abad yang lalu. Ini sebuah dinamika yang hanya bisa dibedakan dari aktivitas serupa di kalangan lain, dari rekan-rekan yang tidak berafiliasi dengan Islam, oleh (kesadaran akan) sistem nilai yang menjadi rujukan. Di dalam lingkaran Islam, identifikasi keterbelakangan bangsa sebagai keterbelakangan pemahaman agama, sebagai sikap “jumud dan menarik diri”, menyebabkan perjuangan pembebasan maupun pemajuan identik dengan perjuangan pembaruan keagamaan (tajdid).

Dan dalam perjuangan itu, di dunia pers, Hamka hadir pada 1930-an. Yaitu ketika ia, bersama aktivitasnya di dunia sastra, pada tahun-tahun itu bersama M. Yunan Nasution mulai memimpin Pedoman Masyarakat di Medan. Majalah inilah yang, bersama Panji Islam pimpinan Z.A. Ahmad di kota yang sama, 20-an tahun kemudian “dilebur” menjadi Panji Masyarakat (1959). Dan dalam semangat pemajuan umat itu kata-kata “reformasi dan modernisasi Islam”, yang dicantumkan dalam moto Panjimas sejak terbitnya, bisa dipahami sebagai lebih menunjuk pada kehendak penanganan sumber kemerosotan umat daripada sebagai dakwah aliran baru.

Itu bisa diperjelas oleh dua hal. Pertama, oleh asumsi kita akan kepedulian sosial yang berdiri di belakang aksioma “Islam tertutup oleh umatnya sendiri (Al Islam mahjubun bil muslimin)” dari Syekh Muhammad Abduh, idola kaum pembaru, juga Hamka, yang tentu lebih menuding kepada ‘umat’ daripada kepada ‘Islam’. Dan kedua, sebuah kecenderungan pribadi, kegemaran Hamka kepada tasawuf, “benda asing” yang berada di luar agenda kaum tajdid.

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda