Tafsir

Membabat Riwayat Israiliat

Ilustrasi foto (Inaki del Olmo/Unsplash)
Ditulis oleh Panji Masyarakat

Tafsir Quran macam manakah yang bisa memenuhi kebutuhan orang?

Tergantung orangnya, tentu saja. Tergantung bidang perhatiannya yang utama. Dan, akhirnya, tergantung zaman. Ada bermacam-macam kitab tafsir. Ada yang lebih menitikberatkan pada pembahasan masalah-masalah kebahasaan dan kesastraan Arab, ada pula yang sibuk dengan perbantahan para ahli Kalam (ilmu tauhid) atau para ahli Ushul (teori hukum Islam). Juga ada yang gemar kepada takwil-takwil orang tasawuf. Atau kepada banyak riwayat, dongeng, termasuk yang dari jenis israiliat, produk Yahudi seperti yang antara lain terdapat dalam Perjanjian Lama.

Fakhruddin Ar-Razi (abad ke-5 Hijriah) bahkan memuat mated yang lain lagi: ilmu-ilmu riadhiyat (Aljabaar, Matematika, Ilmu Pasti), dan Fisika, termasuk misalnya pembicaraan konsep kosinos model Yunani. Ini diikuti sebagian mufassir (penafsir Quran) yang lebih belakangan dengan bahasan-bahasan berhamburan misalnya untuk menerangkan hanya satu kata dalam Al Quran seperti langit atau bumi.

Muhammad Rasyid Ridha, penyusun Tafsir Al Manar yang sebagian besar bersandar pada pengajian gurunya, Muhammad Abduh (1849-1905), lebih melihat semua kecenderungan di atas dari segi negatif. Di antara nasib jelek umat muslimin, katanya, adalah bahwa mereka mewarisi kitab-kitab tafsir yang lebih banyak membuat sibuk para pembacanya dari tujuan-tujuan (Al Quran) yang luhur itu.” Yakni tujuan ketakwaan sendiri, yang sekaligus memberikan kekhusukan, rasa gentar di hadirat Allah, dan disiplin beragama.

Kritik Rasyid Ridha itu kurang lebih mewakili para mufassir mutakhir. Zaman ini adalah, agaknya, zaman berlalunya ilmu-ilmu Islam, atau penguasaan atas ilmu klasik itu, setidak-tidaknya bila untuk itu disyaratkan bekal bahasa dan sastra Arab dengan segala pelik-peliknya. Di abad-abad lalu, sementara ilmu keagamaan tumbuh dengan gemilang, Al Quran lebih tampak sebagai sebuah kitab yang harus dibahas dari segala seginya.

Dengan kata lain, objek analisis. Lebih malang lagi kalau ia sekadar cantolan untuk diskusi mengenai ilmu-ilmu itu sendiri. Sementara di zaman global ini, orang kiranya lebih ingin memandang Quran sebagai benar-benar petunjuk, dengan tafsir yang sungguh-sungguh menerangkan apa yang dimaksud Allah.

Demikianlah maka Rasyid Ridha, misalnya, menyusun Al Manar (Menara), Al Maraghi juga menyusun tafsirnya, Sayid Quthb menulis Fi Zhilalil Quran (Di Dalam Bayangan Al Quran), Abdullah Yusuf Ali menulis The Glorious Koran, dan Leopold Weiss Mohammad Asad menghasilkan The Message of the Koran. Dari pihak Syiah Imamiah (Iran) Thabathabai mengarang Al Mizan (timbangan), dan dari Ahmadiyah Maulvi Muhammad Ali mengarang The Holy Quran.

Di Indonesia dibuat tafsir-tafsir ringkas seperti Al Furqan (Pembeda) dari A. Hassan, Al Bayan (Penjelasan) dari Prof. T.M. Hasbi Ash Shiddieqy. Ada juga tafsir H.M.K. Bakri. Semua itu dimulai oleh tafsir Mahmud Yunus. Namun tafsir di sini yang paling luas adalah Al Azhar dari Prof. Dr. Hamka.

Adapun Al Munir (Yang Benderang), karya Syekh Nawawi Al Bantani, ulama Banten yang berkarya di Makkah pada abad lampau, masih menurut tradisi lama yang mudah dikenali dari formatnya sebagai kitab kuning, hanya saja dari jenis ringkas. Ia layaknya menapaki jalan Tafsir Jalalain yang banyak dipakai, yang separuhnya ditulis oleh Jalaluddin As-Suvuthi (Mesir). Demikian pula Al Ibriz karya K.H. Bisri Mustofa, yang terbit sesudah Kemerdekaan, dalam bahasa Jawa bertuliskan Arab.

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda