Bintang Zaman

Dzun Nun Al-Mishri

Tujuan perjalanan mereka umumnya adalah pengembangan wawasan, termasuk mencari guru dalam bidang yang ingin didalami, yang namanya didengar dari jauh, atau mencari sanad hadist, menghadiri forum diskusi dan debat, atau sekadar menjajal halaqah (perkuliahan) orang pandai. Khusus bagi para sufi, pengembaraan bukan untuk tujuan pengembangan, keilmuan, melainkan peningkatan kualitas spiritual, penyucian diri, dan pendekatan kepada Allah.

Dalam perjalanan, kaum sufi sering mendirikan tenda-tenda di padang pasir. Siang hari tenda mereka menjadi tempat berteduh para musafir, sementara di waktu malam, dengan lampu-lampu yang mereka pasang, menjadi petunjuk mereka yang tersesat. Di dalam tenda itu mereka mengadakan riadhah, latihan penyucian, dengan zikir, membaca Al-Quran, salawat Nabi, segala wirid, dan juga, pada sebagian mereka, menari, hingga mampu merasakan apa yang mereka yakini sebagai fana, hilangnya kesadaran diri dalam “persatuan dengan Allah”.

Dalam tenda-tenda itu, Dzun Nun Al-Mishri lebih tampil sebagai syekh sufi yang disegani. Beliau sering memberikan nasihat agar orang beriman tidak dihanyutkan oleh jabatan, kekuasaan, dan harta yang melimpah. Semua kenikmatan dunia yang menipu hendaklah ditinggalkan. Ucapan ini memang merupakan kritikan kalangan sufi terhadap kemewahan para pejabat negara yang di sana-sini menindas dan lupa kepada Allah. Karena ucapan-ucapan itu Pula, Dzun Nun Al-Mishri dipanggil Khalifah Al-Mutawakkil ke Bagdad.

Mutawakkil adalah khalifah yang punya sifat sedikit grusa-grusu. Ia, misalnya, mencabut perlindungan yang sudah diberikan dua khalifah pendahulunya kepada filosof Al-Kindi, bahkan musuh saintis itu merampas Al-Kindiyah, perpustakaannya yang besar. Ia mendirikan Masjid Agung Samarra, di kota yang diniatkan pendahulunya, Al-Mu’tashim, untuk menjadi ibu kota yang baru menggantikan Bagdad yang waktu itu diguncang terutama oleh pemberontakan pasukan Turki. Al-Mutawakkil kemudian membangun menara Masjid Samarra dengan bentuknya yang khas itu. Kini, ia menuduh Dzun Nun sebagai penganut zindiq, aliran sesat dan subversif. Sang Kiai pun dituding menghasut rakyat untuk memberontak. Dzun Nun dimasukkan ke bui dengan tangan diborgol. Beberapa tahun sufi itu meringkuk dalam penjara Bagdad.

Arkian, ketika umat melihat syekh itu diborgol dan digiring ke Bagdad oleh para punggawa untuk dijebloskan ke dalam penjara, mereka menangis. Banyak, memang, kejadian yang menunjukkan ketidaksetujuan rakyat kepada sikap penguasa yang secara keliru, atau dengan alasan yang direkayasa, menyeret seorang alim ke penghukuman. Di antara keempat imam mazhab besar fikih, hanya Imam Malik yang tidak mengalami hal serupa itu. Imam Abu Hanifah bahkan meninggal dalam penjara. Lalu Imam Ibn Taimiah, juga meninggal dalam bui. Dan sambutan penduduk Damaskus sungguh luar biasa: 250.000 laki-laki dan 15.000 perempuan, demikian diperkirakan, keluar mengiringkan jenazah Ibn Taimiah sebagai pernyataan hormat.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda