Bintang Zaman

Dzun Nun Al-Mishri

ilustrasi Dzun Nun
Ditulis oleh Panji Masyarakat

Kimiawan yang Sufi

Dzun Nun Al-Mishri adalah sufi kedua tertua dalam sejarah Islam sesudah sufi wanita Rabi’ah Al-Adawiyah. Namun, ia juga seorang ahli kimia dan ulama hadis, paduan yang benar-benar langka. Diketahui sebagai orang yang memperkenalkan teori makrifah, Dzun Nun termasuk sufi dari masa ketika tasawuf belum (terlalu jauh) menciptakan berbagai “penyimpangan”, dibanding misalnya di zaman Ghazali. Berikut ini tulisan Asep Usman Ismail.Dilihat dari namanya, Dzun Nun Al-Mishri seperti orang Mesir asli. Padahal, sufi yang diketahui memperkenalkan teori makrifah ini keturunan Sudan. Hanya saja ia tinggal di Mesir, menetap di sana hingga meninggal. Nama lengkapnya Sauban ibn Ibrahim Al-Mishri, dan sehari-hari lebih dikenal dengan panggilan Abul Faid. Ayahnya, Ibrahim, termasuk pemuka suku Nubia di kawasan Nubah, Sudan. Ibrahim, seperti umumnya masyarakat di sana pada masa itu, tidak biasa mencatat tanggal dan tahun kelahiran putranya. Hanya saja diketahui bahwa Dzun Nun meninggal tahun 245 H/ 850 M, 20 tahun mendahului filosof Islam pertama, Al-Kindi. Dengan kata lain, ia termasuk sufi tertua dalam sejarah Islam, sesudah sufi wanita Rabi’ah Al-Adawiyah yang meninggal 49 tahun sebelumnya. Makam Dzun Nun berada di Qarafah, sebuah pulau kecil di Mesir.

Dzun Nun bukan hanya seorang sufi. Ia dikenal sebagai ahli kimia. Kepakarannya di bidang ini sebanding dengan yang dimiliki Jabir ibn Hayyan. Yang menarik, penghayatannya tentang dimensi tasawuf dalam Islam berpengaruh terhadap paradigma keilmuwanannya di bidang kimia. Ia, misalnya, meneliti gerakan-gerakan molekul dengan pendekatan spiritual. Karya-karya ilmiahnya dalam bidang kimia, menurut Abdul Halim Mahmud, mantan syekh Al-Az-har, masih tersimpan rapi di perpustakaan Darul Kutub Al-Mishriyah, Kairo. Selain itu, Dzun Nun Al-Mishri dikenal pula sebagai seorang ulama fikih. Ia penganut mazhab fikih Abu Tsaur, yang dirumuskan oleh Sufyan AtsTsauri. Ini mazhab yang sekarang su-dah habis, meski nama AtsTsauri tetap besar dalam kitab-kitab fikih. Sementara itu mazhabSyai`i misalnya, dari imam yang juga orang Mesir, waktu itu belum terkonsolidasi: Syafi’i meninggal di Kota Fusthath hanya 30 tahun sebelum Dzun Nun berpulang.

Sejak usia 20 tahun, sufi ilmuwan ini aktif mengikuti kuliah Abu Tsaur. Salah satu pandangan fikih Dzun Nun Al-Mishri, yang merupakan cerminan pengaruh gurunya, terkandung dalam pernyataannya yang terkenal: “Barang siapa tidak hafal Al-Quran, dan tidak menulis (menyelidiki dan meriwayatkan) hadis, ia tidak akan diikuti orang dalam fikih, karena ilmu ini terikat dengan Al-Quran dan Hadis.”

Maka ia pun tercatat sebagai orang hadis; ia terkenal sebagai muhaddits. Ada beberapa hadis yang rantai periwayatannya berpangkal pada dirinya. Di antaranya: “Berkata Abul Faidh Dzun Nun Al-Mishri: ‘Berkata kepada kami Malik ibn Anas, dari Az-Zuhri, dari Anas ibn Malik, r.a.: “Bersabda Rasulullah s.a.w., Ahlul Qurani ahlullah wa khaashshatuh (ahli Al-Quran adalah orang-dekat. Allah dan anggota kelompok istimewa-Nya)’.”

Dzun Nun Al-Mishri, seperti umumnya ulama di masa kejayaan Islam, memiliki etos pencarian ilmu yang tuntas. Lebih-lebih berhubungan dengan bidang hadisnya, yang mengharuskannya mencari dan terutama mengecek hadis dari satu tempat ke tempat lain, untuk menemui mereka yang umumnya dari satu generasi lebih dulu, dan mengujinya. Begitulah ia mengembara ke berbagai kota di Timur Tengah Mekah, Madinah, Bagdad, Basrah, Kufah, Damaskus, Lebanon, Palestina, dan akhirnya kembali ke Mesir. Tradisi pengembaraan ini memang bukan hanya milik ahli hadis; juga menjadi kebiasaan para ulama dari berbagai disiplin ilmu.

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda