Mutiara

Penuhi Janji

Ilustrasi masjid Nabawi di Madinah (yasmin arfaoui/unsplash)
Ditulis oleh Panji Masyarakat

 

Sebuah riwayat dari Dukain ibn Sa’ad Ad-Darimi (wafat 101 H/ 720 M), seorang penyair kenamaan yang hidup sezaman dengan Umar ibn Abdul Aziz, khalifah yang adil, alim, dan sederhana. Dukain mengisahkan: ketika Umar ibn Abdul Aziz menjadi gu­bernur Hijas, yang berkedudukan di Kota Madinah, aku mengun­junginya dan membawakan syair-syairku. Sebagai hadiah, aku diberi 15 ekor unta.

Sebelum pulang ke Najed, kampungku—tentu saja bersama unta- unta itu—aku menemui Pak Gubernur dalam sebuah forum untuk berpamitan. Ada dua orang yang tak kukenal di sana. Begitu aku hen­dak meninggalkan majelis, Umar berpaling kepadaku sembari me­ngatakan, “Wahai Dukain, sesungguhnya aku punya ambisi besar. Bila kaudengar aku lebih jaya dari keadaanku sekarang, datanglah, aku akan memberimu hadiah.”

Aku katakan, “Datangkanlah saksi untuk janji Anda itu.”

“Allah s.w.t. adalah saksi yang paling baik.”

“Saya ingin saksi dari makhluk-Nya.”

“Baiklah, kedua orang itu sebagai saksi.”

Aku hampiri salah seorang di antaranya dan kutanyakan, “Demi ayah bundaku, siapakah Anda sebenarnya?”

“Aku Salim ibn Abdullah ibn Umar ibn Khattab.”

Aku katakan kepada Umar ibn Abdul Aziz, “Saya setuju dan percaya orang ini sebagai saksi.”

Lalu orangtua yang satunya kutanyai juga.

“Siapakah Anda?”

“Abu Yahya, pembantu gubernur”

“Saksi ini dari keluarganya, saya setuju.”

Aku pun pulang.

****

Waktu berlalu cepat. Pada satu saat ketika berada di Gurun Falaj, daerah Yamamah, aku mendengar berita tentang wafatnya Amirul Mukminin, Sulaiman ibn Abdul Malik ibn Marwan (memerintah 97- 99 H). Aku tanya pada pembawa berita, “Siapakah penggantinya?” “Umar ibn Abdul Aziz.”

Serta-merta aku berkemas untuk menuju Syam. Di Damaskus, aku bertemu dengan Jarir yang baru kembali dari tempat Khalifah. Setelah menyalaminya, aku tanyakan, “Dari mana engkau, wahai Abu Hazrah?”

“Dari Khalifah yang pemurah kepada fakir miskin dan menolak para penyair. Sebaiknya Anda pulang saja, sebab itu lebih baik bagi Anda.”

“Saya punya kepentingan pribadi yang lain dari kepentingan kalian.”

“Kalau begitu terserah kehendak Anda.”

Aku lalu terus menuju kediaman Khali­fah. Ternyata beliau sedang berada di serambi, dikerumuni anak-anak yatim, para janda, dan orang-orang teraniaya. Lantaran tak bisa me­nerobos kerumunan itu aku pun angkat suara dengan syairku,

“Wahai Umar nan bijak dan dermawan Umar nan sarat pemberian Aku seorang penggores kalam dari Darim Menagih utang saudara muda yang bijak.”

Abu Yahya, sang pembantu Umar, me­neliti aku dengan cermat, kemudian berpaling kepada Amirul Mukminin seraya berkata,

“Wahai Amirul Mukminin, saya adalah saksi dari orang dusun ini.”

“Aku tahu itu.”

Beliau menoleh kepadaku dan berkata, “Mendekatlah kemari, wahai Dukain.”

Aku mendekatinya, lalu beliau berkata lagi, “Ingatkah engkau pada kata-kataku sewaktu berada di Madinah, bahwa aku punya am­bisi besar dan menginginkan hal yang lebih besar dari yang sudah kumiliki.”

“Benar, ya Amirul Mukminin.”

“Sekarang aku telah mendapatkan yang tertinggi di dunia, yaitu kerajaan. Maka hatiku menginginkan sesuatu yang tertinggi di akhi­rat, yaitu surga dan berusaha meraih ridha Allah s.w.t. Bila para raja menggunakan kerajaannya sebagai jalan untuk mencapai kebahagia­an dunia, maka aku akan menjadikannya jalan untuk mencapai kehor­matan di akhirat.”

Beliau melanjutkan, “Wahai Dukain, aku tak pernah menggelap­kan harta kaum muslimin walau satu dinar atau satu dirham pun sejak berkuasa di sini. Yang kumiliki tak lebih 1.000 dirham saja. Eng­kau boleh mengambil separonya, dan tinggalkan sisanya untukku.”

Kuambillah apa yang diberikannya untukku. Dan demi Allah, be­lum pernah aku melihat uang yang begitu penuh berkah seperti ini.

****

Kalau hari-hari ini di tengah masyarakat juga sedang bertebaran janji dari para pemimpin kita—paling tidak dari para politisi, kemudian kita tengok beberapa ta­hun lalu merebak berita di media massa tentang daftar janji (calon) pemimpin tertentu yang ternyata toh tak dipenuhi—rasanya jauh benar jarak— tak hanya dalam arti ruang dan waktu, namun juga jarak psikis— antara zaman sekarang dan zaman Umar ibn Abdul Aziz menjadi khalifah. Itu baru dalam hal menepati janji, belum lagi yang lainnya.

Mungkin saja lantaran di zaman ini ketika seseorang mengucap­kan janji hanya dengan mulutnya semata sehingga betapa mudahnya janji itu dilontarkan. Tapi bagaimana kalau seseorang harus berjanji sambil menyeiringkan perkataan dan kata hati atau pikirannya? Ba­rangkali takkan seringan itu. Pada kenyataannya, menepati janji me­mang tak semudah mengucapkannya. Ada ungkapan dalam bahasa Arab: Al-wa’du dainun. Janji adalah utang. Itulah sebabnya mengapa kita wajib menunaikannya.

Apa yang diucapkan Khalifah Umar ibn Abdul Aziz pada akhir kisah itu benar. Mungkin lantaran dia tahu betul hadis riwayat Imam Ahmad, Ibnu Hibban, Al Hakim, dan Baihaqi dalam kitab As-Si’ib, dari Ubadah ibn Shamit ini.

Rasulullah s.a.w. bersabda, “Berikan kepadaku enam jaminan niscaya aku jamin kalian dapat meraih surga, yaitu: jujurlah kalian jika bicara, tepati­lah jika kalian berjanji, tunaikanlah jika.kalian mendapat amanat, pelihara kehormatan kalian, tutuplah pandangan kalian, dan tahanlah tangan- tangan kalian.”

Sebaliknya dalam Al-Quran bisa dite­mukan di mana letaknya orang-orang yang mengingkari janji-janjinya. Dalam Surah Al- Munafiqun (Q.S. 63:1-8) disebutkan, ada tiga tanda-tanda orang munafik. Yaitu kalau ber­bicara dia berdusta, jika berjanji ia meng­ingkari, dan dalam bersikap dia sombong.

Sayang sekali, bila kita suka mengumbar janji namun kita tak pernah serius memenu­hinya atau bahkan mengabaikannya. Kalau ada tiga hal yang perlu kita nasehatkan pada diri sendiri, barangkali kira-kira begini, “Penuhi janji, penuhi janji, penuhi janji!”.

Wallahu a’lam. ■

ABDUL RAHMAN MA’MUN (Panji Masyarakat edisi 06 tahun 1, 1997)

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda